Sultanate Institute bersama Sirah Community Indonesia dan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) menyelenggarakan pertemuan dan diskusi strategis di Solo, Sabtu (27/12/2025).
Forum ini merupakan diskusi yang mempertemukan tiga lembaga strategis yang melaksanakan kerja-kerja penulisan sejarah peradaban Islam. Berkaitan hal tersebut, pertemuan dilakukan dengan tujuan memperkuat sinergi riset, edukasi publik, dan advokasi sejarah-peradaban Islam dalam konteks Indonesia maupun dunia global.
Lebih rinci, pertemuan dan diskusi strategis dalam rangka mempertemukan kesepahaman visi dan misi kelembagaan; menginisasi kolaborasi riset, publikasi, dan media edukasi; merumuskan peta jalan strategis baik jangka pendek maupun menengah; serta mengencangkan jejaring intelektual.
Dalam forum di kantor Sultanate Institute tersebut, setelah pengenalan lembaga, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil riset di Situs Bongal. Paparan menekankan peran penting Situs Bongal dalam kajian sejarah peradaban Islam dalam konteks Indonesia maupun global.
Hasil riset di Situs Bongal juga merefleksikan urgensi dalam memahami narasi penulisan sejarah Islam serta bagaimana peran data arkeologi sangat krusial dalam mengkaji sejarah peradaban Islam.

Selain paparan yang memuat gambaran umum serta keragaman jenis data artefak Situs Bongal, konteks sejarah terkait turut menjadi perhatian penting. Bukti-bukti koneksi Dunia Islam paling awal di Nusantara melalui pesisir barat Sumatra mengharuskan kita untuk mengkaji bagaimana sejarah peradaban Islam pada masa itu, yaitu abad ke-7 M.
Konteks sejarah tersebut berkaitan dengan bagaimana kondisi di pusat Dunia Islam di Asia Barat/Timur Tengah. Pembentukan masyarakat Islam di kota-kota terawal berlangsung di antaranya Madinah, Basrah, Fustat, dan sejumlah kota lain yang disebut dengan amshar.
Ruang peradaban masyarakat muslim di kota-kota terawal mewarisi suatu konsep yang dikenal dengan Madinah Islamiyah. Bagaimana kehidupan kota dilandasi oleh sendi-sendi ajaran Islam meliputi aspek sosial, muamalah, ruang permukiman, sistem irigasi, tata kota, hingga perekonomian.
Madinah Islamiyah menjadi tolok ukur dan cerminan kehidupan masyarakat muslim. Bentuk-bentuk model kota Madinah Islamiyah tercermin dalam situs-situs bersejarah yang menjadi saksi berlangsungnya dakwah Islam secara global.
Model kota dengan konsep Madinah Islamiyah juga mengantarkan proses dakwah Islam yang terus meluas hingga ke titik terjauh. Jejaring kota-kota tersebut membentuk rute perjalanan dakwah yang diiringi dengan aktivitas pelayaran dan perniagan melalui jalur maritim.

Pengetahuan akan dunia maritim serta segala hal yang menyertainya juga tak luput dari berkembangnya keahlian para ilmuwan/pelayar muslim yang andal masa itu. Penguasaan terhadap ruang maritim menjadi kunci dalam mengaruhi batas-batas daratan sehingga terbentuk jejaring maritim.
Dalam konteks Situs Bongal, pembentukan peradaban Islam seiring dengan misi dakwah yang berangsur meluas melalui rute pelayaran dan perdagangan maritim menandai bahwa Situs Bongal merupakan bagian di dalamnya.
Perairan Samudra Hindia menjadi saksi sejarah era pelayaran dan perdagangan maritim yang dimotori oleh para ilmuwan muslim sejak abad ke-7 M. Situs Bongal dalam hal ini merupakan bagian dari jejaring maritim masa itu.
Pertemuan dan diskusi juga membahas secara fokus untuk melihat kembali jejaring peradaban yang terbentuk antara kawasan Teluk Persia, Samudra Hindia, Asia Tenggara, hingga ke Cina/Asia Timur.
Dalam hal ini terdapat hubungan interaksi yang intensif antara Basrah melalui kota pelabuhan Siraf, dengan India/Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Cina/Asia Timur. Situs Bongal di pesisir barat Sumatra menjadi salah satu kota pelabuhan lokasi singgah maupun tujuan pelayaran ilmuwan muslim.
Mengingat urgensi dan kompleksitas kajian di atas, sangat diperlukan kolaborasi yang dapat membangun studi yang kuat. Kesempatan kolaborasi juga memungkinkan keterlibatan multidisiplin ilmu dalam mendiskusikan sejarah peradaban Islam.
Upaya mempertemukan ide dan studi terkait sejarah peradaban Islam, memungkinkan juga untuk merumuskan konsepsi di tengah perkembangan studi dan wacana akademik yang semakin kompleks.













