Artefak kaca merupakan salah satu temuan penting dalam kajian arkeologi, terutama untuk memahami dinamika perdagangan dan interaksi antarwilayah pada masa lalu. Studi terhadap artefak kaca tidak hanya berkontribusi pada rekonstruksi aktivitas ekonomi, tetapi juga pada pemahaman kronologi dan teknologi material pada periode tertentu.
Studi ini seperti yang dijelaskan oleh Laure Dussubieux dalam 3rd Spiced Islam International Conference tahun 2025 dengan judul artikel Glass Circulation in North Sumatra, a View from Bongal and Bulu Cina.
Di Sumatra Utara, temuan kaca dari situs Bongal dan Bulu Cina memberikan petunjuk berharga mengenai keterlibatan kawasan ini dalam jejaring perdagangan jarak jauh yang terhubung dengan kawasan Samudra Hindia.
Studi artefak kaca dalam arkeologi telah lama diakui sebagai pendekatan penting untuk merekonstruksi jejaring perdagangan dan interaksi budaya lintas wilayah. Kaca sebagai material yang memerlukan teknologi khusus dan bahan baku tertentu, tidak diproduksi secara merata di semua kawasan. Oleh karena itu, kehadirannya di suatu situs sering kali mencerminkan adanya hubungan dengan pusat-pusat produksi di wilayah lain.
Pada masa lalu, produksi kaca tidak dilakukan di semua wilayah. Banyak daerah di Asia Tenggara, termasuk Sumatra, lebih berperan sebagai konsumen daripada produsen kaca. Oleh karena itu, kehadiran artefak kaca seperti manik-manik, perhiasan, dan wadah sering kali menjadi indikator kuat adanya perdagangan jarak jauh.
Benda-benda tersebut diketahui tersebar luas di sepanjang jalur perdagangan Samudra Hindia, yang menghubungkan Asia Selatan, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Tiongkok.

Dalam konteks situs Bongal dan Bulu Cina, temuan artefak kaca menunjukkan bahwa wilayah pantai dan pedalaman Sumatra Utara tidak terisolasi, melainkan terintegrasi dalam jejaring pertukaran regional dan internasional.
Kaca kemungkinan besar didatangkan melalui jalur maritim dan sungai, sejalan dengan karakter geografis kawasan ini yang kaya akan sungai dan wilayah pesisir.
Selain sebagai indikator perdagangan, artefak kaca juga memiliki nilai penting dalam penentuan waktu atau kronologi situs. Cara memperoleh kaca, bentuk artefak, serta jenis benda yang beredar mengalami perubahan dari masa ke masa.
Dengan membandingkan temuan kaca dari Bongal dan Bulu Cina dengan temuan sejenis di wilayah lain yang telah memiliki penanggalan relatif atau absolut, dapat memperkirakan periode aktivitas di kedua situs tersebut sekaligus bagaimana dinamika pemanfaatan ruang dan intensitas aktivitas manusia di kedua situs tersebut.
Salah satu pendekatan penting dalam mengidentifikasi pertanggalan kronologis suatu situs adalah dengan analisis komposisi kimia. Melalui penelitian ini, dapat diidentifikasi “resep” atau teknik pembuatan kaca yang khas dari suatu pusat produksi dan periode tertentu.
Variasi komposisi unsur pada kaca dapat menunjukkan apakah artefak tersebut berasal dari Asia Selatan, Timur Tengah, atau kawasan lain. Oleh karena itu, analisis komposisi tidak hanya mengungkap aspek teknologi, tetapi juga jalur distribusi dan jejaring hubungan antarwilayah.
Artefak Kaca dan Perdagangan Jarak Jauh
Di Sumatra Utara, temuan artefak kaca dari Situs Bongal dan Bulu Cina memberikan peluang untuk meninjau kembali peran kawasan ini dalam jejaring perdagangan regional dan internasional. Kedua situs tersebut menunjukkan indikasi aktivitas yang berkaitan dengan peredaran barang impor, khususnya dalam konteks jalur perdagangan maritim dan sungai yang terhubung dengan kawasan luas perairan Samudra Hindia.
Pada periode historis awal hingga pertengahan milenium pertama Masehi, kaca merupakan komoditas bernilai tinggi yang banyak diperdagangkan dalam bentuk manik-manik, perhiasan, dan wadah tertentu.
Distribusi artefak kaca yang luas di kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah menunjukkan intensitas interaksi antarkawasan yang difasilitasi oleh jalur perdagangan maritim.
Temuan kaca di Situs Bongal dan Bulu Cina mengindikasikan bahwa Sumatra Utara tidak berada di luar arus utama perdagangan global abad pertengahan. Sumatra Utara menunjukkan keterlibatan aktifnya sebagai bagian dari jaringan distribusi dan pertukaran barang.

Keberadaan artefak kaca dalam konteks arkeologis lokal menunjukkan bahwa masyarakat pendukung situs memiliki akses terhadap barang-barang nonlokal bahkan mencakup wilayah mancanegara, baik melalui pertukaran langsung maupun tidak langsung.
Temuan artefak kaca dari situs Bongal dan Bulu Cina membuka perspektif baru mengenai aktivitas pertukaran barang dan intensitas interaksi Sumatra Utara dalam jejaring perdagangan Samudra Hindia. Artefak kaca dari Situs Bongal dan Bulu Cina memberikan bukti penting mengenai keterlibatan Sumatra Utara dalam jejaring perdagangan jarak jauh tersebut.
Kaca, sebagai material yang tidak diproduksi secara lokal, berfungsi sebagai penanda penting perdagangan jarak jauh, alat bantu penentuan kronologi, serta sumber informasi mengenai teknologi dan pusat produksi masa lalu.
Kajian terhadap artefak kaca ini memperkuat pandangan bahwa kawasan Sumatra Utara merupakan bagian integral dari dinamika perdagangan maritim di wilayah Samudra Hindia. Penelitian lanjutan, khususnya melalui analisis laboratorium terhadap komposisi kaca, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pola interaksi dan peredaran barang di kawasan ini serta semakin memperjelas posisi Sumatra Utara dalam sejarah maritim dan perdagangan antarwilayah di Asia Tenggara.















