Masyarakat Arab Selatan sejak masa pra-Islam merupakan masyarakat yang sangat dekat dengan peradaban maritim. Philip K. Hitti dalam karyanya berjudul History of the Arabs menjelaskan bahwa kebudayaan masyarakat Arab Selatan termasuk ke dalam jenis kebudayaan maritim.
Mereka adalah penguasa lalu lintas perdagangan di kawasan perairan Laut Arab hingga Laut Merah yang terhubung dengan Mediterania. Tak hanya itu, penguasaan atas wilayah perairan juga terdapat di sejumlah kawasan strategis Samudra Hindia. Masyarakat Arab Selatan memainkan peran dominan dalam rute pelayaran dan perniagaan maritim sehingga menghubungkan jejaring pertukaran budaya antara wilayah di antaranya Mediterania, Afrika, India hingga Timur Jauh.
Masyarakat Arab Selatan memiliki kemampuan yang baik dalam memahami rute perjalanan darat maupun laut. Pengalaman mereka tak perlu diragukan dalam melakukan perjalanan dan penjelajahan di seluruh Semenanjung Arab. Sementara itu pengetahuan maritim mereka juga menunjukkan kemampuan mereka dalam memahami medan wilayah perairannya.
Rute perdagangan Arab Selatan merupakan rute perniagaan mapan yang memainkan peranan penting bagi interaksi dunia Barat dan dunia Timur. Di Selatan orang-orang Saba’ secara aktif membuka jalur perdagangan Yunani-Romawi. Di Utara terdapat kota-kota penting yang menghubungkan jalur perdagangan Yunani-Romawi yaitu Petra (pusat Kerajaan Nabasia) dan Palmyra
Peran besar yang dimainkan masyarakat Arab Selatan dalam interaksi pelayaran dan perniagaan maritim tersebut telah berlangsung sekurangnya sejak masa abad 10 SM, yaitu pada masa peradaban Saba’.
Orang-orang Saba’ kuno telah lama terlibat dalam aktivitas pelayaran melalui rute darat dan laut. Rute ini kerap diberi istilah sebagai “Incense Route” atau jalur dupa. Rute laut dari Samudra Hindia melewati Laut Merah dimulai dari Bab al-Mandab menuju Wadi al-Hamamah di Mesir Tengah.
Sementara rute darat, orang-orang Saba’ membangun jalur antara Yaman dan Syam di sepanjang pesisir barat Semenanjung Arab. Rute ini membuka pintu masuk ke Mediterania melalui Teluk Aqaba menuju Gaza.
Orang-orang Saba’ adalah orang Phonesia dari laut selatan (Yaman Selatan), yang merupakan bangsa maritim unggul. Menurut catatan dalam buku Sejarah Arab Sebelum Islam karya Jawwad Ali, orang-orang Phonesia adalah bangsa yang membantu Nabi Sulaiman membuat armada laut.
Al-Qur’an memuat banyak kisah interaksi kerajaan Saba’ di Yaman dengan kerajaan Nabi Sulaiman di Baitul Maqdis (Palestina). Dalam Al-Quran, Nabi Sulaiman tercatat sebagai seorang Nabi dan sekaligus raja sangat kaya yang adil dan bijaksana. Beliau menerapkan hukum-hukum Allah dalam pemerintahannya dan selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya.
Masyarakat Arab Selatan secara politik merupakan wilayah penguasaan otoritas Negeri Yaman. Mereka diperintah oleh kabilah yang memegang kendali Negeri Yaman, beberapa di antaranya ialah Saba’, Ma’in, Qataban, Hadramaut, Awsan, Hamdan, dan Himyar. Pemerintahan yang mereka bangun bukanlah kerajaan militer sebagaimana orang-orang Romawi dan Persia membangun imperium.
Perdagangan merupakan indeks keberhasilan yang dicapai oleh orang-orang Arab Selatan. Keberhasilan dalam aktivitas pelayaran dan perniagaan maritim tersebut menjadikan mereka sebagai masyarakat yang memiliki kerajaan yang Makmur dan berperadaban tinggi.
Kegemilangan Yaman Kuno (Saba’) di antaranya adalah pembangunan “Bendungan Ma’rib” sebagai sarana irigasi pertanian. Kota Ma’rib berada 6 mil sebelah timur kota San’a, berada di ketinggian 3.900 kaki di atas permukaan laut. Kota ini merupakan titik temu berbagai rute perjalanan dagang yang menghubungkan negeri-negeri penghasil wewangian dengan pelabuhan-pelabuhan di Mediterania, terutama Gaza.
Kota kuno Ma’rib yang merupakan ibu kota megah yang mewakili pusat administrasi Kerajaan Saba diperkirakan telah berdiri sejak 950 SM. Pusat kawasan struktur reruntuhan bangunan yang diduga sebagai ibukota Ma’rib dengan luas 110 hektar pada puncak kemakmurannya pertengahan abad ke-7 SM, diperkirakan pernah dihuni sekitar 30.000 hingga 40.000 jiwa penduduk.
Kota ini menonjol karena lokasinya yang berada di tengah Oasis gurun pasir dengan luas keseluruhan sekitar 10.000 hektar (panjang 22 km x lebar 8 km). Wadi Dhanah terbagi menjadi dua bagian sehingga membentuk dua buah taman. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an. “Di tempat tinggalnya terdapat tanda bagi [suku] Saba’: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri” (Q.S. Saba’: 15).
Hasil pemeriksaan arkeologi di sejumlah kawasan penting reruntuhan kota dan bendungan raksasa Ma’rib menjelaskan bahwa kota dan bendungan raksasa Ma’rib ini pernah beberapa kali mengalami modifikasi dan pelebaran.
Dimulai sejak abad ke-7 SM, abad 4 SM dan awal abad ke-5 SM, hingga tahun 115 SM. Artinya, ibukota Arabia Selatan ini telah bertahan menjadi pusat perdagangan dalam persimpangan jalur maritim Samudra Hindia setidaknya sejak abad 9 SM hingga tahun 115 SM.
Kondisi geografis Oasis Ma’rib secara alami tidak bersahabat bagi kehidupan umat manusia hari ini, karena iklimnya yang kering dan keras serta kurangnya curah hujan, membuat kehidupan manusia dan pertanian lahan subur tidak mungkin terjadi di gurun pasir ini hari ini.
Namun, berdasarkan pemahaman yang rumit tentang meteorologi musiman di lembah-lembah sekitarnya dan lokasi strategisnya, reruntuhan ini pernah menjadi kota yang makmur dan terbesar di Arabia Selatan dengan oasis hijau dan lahan pertanian subur di tengah gurun pasir gersang. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an urat Saba’ ayat 24: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi? Katakanlah Allah.”
Kreativitas manusia yang inovatif dalam penggunaan lahan pada masanya, serta teknik irigasi canggih yang tiada bandingannya, sejauh ini belum pernah ada dalam bentuk serupa di lokasi lain mana pun di sub-wilayah tersebut, seperti di sepanjang Sungai Nil dan atau di Mesopotamia kuno. Namun hari ini, kawasan ini menjadi kawasan gurun pasir gersang. Hal ini juga di abadikan dalam Al-Qur’an surat Saba ayat 16.
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (Q.S. Saba ayat 16).