Seiring dengan menurun dan segera secara berangsur ditinggalkannya Jalur Sutra pada abad ke-5 M, yang dikenal sebagai jalur perdagangan darat, koneksi kemudian terbentuk melalui jalur laut. Dimotori para pedagang dari Asia Barat, era perdagangan maritim dimulai dengan rute perjalanan dapat mencapai Tiongkok.
Abad ke-7 M menjadi penanda perkembangan dan peningkatan rute perdagangan maritim yang menghubungkan Asia Barat dengan Tiongkok. Pengetahuan kemaritiman dengan pesat mendorong berlangsungnya kemajuan teknologi pelayaran sehingga memungkinkan para pelayar Asia Barat menjelajah perairan trans-samudra yang mencakup Afrika Timur hingga Tiongkok.
Masa inilah yang dikenal dan menjadi kajian serius para peneliti sebagai periode dengan perkembangan pesat aktivitas pelayaran muslim. Perairan Samudra Hindia menjadi layaknya lintasan para pedagang muslim dari Arab dan Persia yang dominan, hingga dapat mencapai Tiongkok.
Penelitian arkeologi maritim terbaru mengungkapkan jangkauan kontribusi Islam yang dominan pada perdagangan global saat itu. Hal tersebut dilihat dari sebaran tiga jenis tembikar Islam masa Awal (Early Islamic pottery) yang menunjukkan pola distribusi artefak kontemporer sejauh Atlantik di barat dan Laut Tiongkok Selatan di timur seperti dijelaskan dalam artikel karya Jessica Hallett berjudul “Imitation and Inspiration: The Ceramic Trade from China to Basra and Back.”
Beberapa di antaranya ialah Guci penyimpanan berglasir biru-hijau dengan dekorasi relief (abad ke-8 M hingga ke-10 M) ditemukan di sepanjang pesisir Samudra Hindia, dari Madagaskar hingga Tiongkok selatan, bahkan sampai Dazaifu di Jepang. Kemudian Tembikar biru-putih Islam Awal (paruh pertama abad ke-9 M) ditemukan sejauh Aqaba di Laut Merah dan Quanzhou di timur, dan tembikar luster yang diproduksi sedikit lebih lambat ditemukan sejauh Thailand di timur dan benteng Islam Silves di Portugal di barat.
Peran Basrah sebagai Pusat Perdagangan di Teluk Persia
Asal-usul pembuatan tembikar ini telah menjadi topik perdebatan. Selama hampir tujuh puluh tahun, studi tembikar Islam Awal didominasi oleh kota istana Abbasiyah, Samarra. Tembikar luster dan biru-putih yang ditemukan di Samarra, ibu kota sementara Abbasiyah dari tahun 836-883 M, masih sering disebut sebagai Samarraware. Tembikar ini dicirikan oleh badan tanah liat berwarna krem dan glasir putih buram yang mengandung timah dan timah putih.
Meskipun Samarra dan Baghdad lama dianggap sebagai pusat produksi, analisis ilmiah terbaru menunjukkan peran kunci Basrah. Analisis ilmiah terhadap kain tanah liat tembikar luster pada tahun 1970-an mendukung pendapat bahwa tembikar tersebut dibuat di Irak.
Selain itu, analisis petrografi Robert Mason terhadap pecahan dan perabotan tempat pembakaran dari situs tungku pembakaran di Basrah Lama juga menguatkan gambaran tersebut. Tembikar putih yang dihiasi biru kobalt atau lukisan luster secara geologis sebanding dengan material tungku pembakaran Basrah.
Studi Mason juga mengungkapkan Basrah sebagai salah satu pusat produksi utama untuk guci penyimpanan berglasir biru-hijau yang tersebar luas di Samudra Hindia. Sedangkan Analisis kimia alternatif (INAA) baru-baru ini memperkuat asal-usul Basrah yang diusulkan Mason, dan juga mengungkapkan kemungkinan adanya pusat produksi luster kedua yang berumur pendek di Samarra.
Kemasyhuran Basrah sebagai pusat produksi tembikar juga dicatat dalam sumber-sumber Arab kontemporer, namun sering diabaikan. Bahkan, para pembuat tembikar dari Basrah, beserta juga Kufah sangat dihormati.
Imitasi dan Inovasi di Basrah
Penemuan temuan ilmiah terbaru ini menunjukkan produksi terpusat dan eksklusif barang mewah terbaik pada masanya di Basrah. Basrah, tempat porselen dan stoneware Tang yang sangat dikenal pertama kali diturunkan dari kapal dagang Samudra Hindia, mendukung para pembuat tembikar lokal untuk bereksperimen dengan reproduksinya.
Tantangannya adalah menciptakan kembali kualitas porselen Tiongkok yang sangat dihargai, dengan keputihan, kekuatan, dan tembus pandangnya tanpa bahan baku atau teknologi pembakaran yang tersedia secara lokal.
Basrah tidak memiliki deposit kaolin (yang diperlukan untuk komposisi badan Tiongkok) dan hanya memiliki tanah liat kekuningan yang dibakar rendah. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan bagi para pembuat tembikar adalah meniru efek visualnya.
Kemiripan luar biasa antara mangkuk Abbasiyah dan Tiongkok menunjukkan bahwa pembuat tembikar Basrah melakukan pengamatan cermat terhadap tembikar yang mereka tiru, dan bahkan mungkin memiliki pengetahuan langsung tentang teknik Tiongkok. Pedagang Muslim diketahui hadir di bengkel tembikar di Tiongkok, fragmen guci penyimpanan Dusun yang ditemukan di Siraf memiliki nama Arab yang diukir di bawah glasir.
Oleh karena itu, kemungkinan besar pedagang Basrah yang berdagang dengan Timur Jauh memfasilitasi transmisi praktik manufaktur Tiongkok, baik melalui deskripsi, atau mungkin, dengan mengimpor pembuat tembikar.
Koneksi yang ditunjukkan dengan temuan artefak keramik ini menjelaskan sejarah pelayaran dan perdagangan maritim jarak jauh yang berlangsung sejak abad ke-7 M. Di dalamnya juga terdapat pertukaran ide baik teknologi pembuatan maupun tampilan artistik dua arah, yang berlangsung dinamis dan memiliki konsekuensi jangka panjang.
















