No Result
View All Result
Sultanate Institute
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
No Result
View All Result
Sultanate Institute
No Result
View All Result

Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim di Situs Bongal

Editor by Editor
12 November 2025
in Islamic Civilization
0
Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim di Situs Bongal

Kunjungan Museum Fansuri dalam rangka Diskusi Pelestarian Berkelanjutan Situs Bongal. Dokumentasi Sultanate Institute.

Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Penggalian arkeologi di Situs Bongal memberikan temuan data-data baru yang penting untuk memahami kembali peran awal Sumatra dalam jejaring perdagangan maritim antarwilayah. Temuan budaya material dari konteks maritim Islam ini memberikan perspektif baru yang menantang narasi sejarah modern yang sering kali terbatas pada kerangka negara-bangsa.

Beragam data arkeologi di Situs Bongal tersebut membutuhkan pendekatan baru dalam pengumpulan, penyimpanan, dan analisis. Maritime Asia Heritage Survey (MAHS) mencontohkan hasil kerja pelestariannya dalam rangka mendokumentasikan dan mengarsipkan data budaya material dalam skala luas dan telah dilakukan di beberapa negara, seperti Maladewa, Thailand, dan Indonesia.

Hal ini dipresentasikan oleh Michael Feener dalam 3rd Spiced Islam International Conference 2025 dengan makalah berjudul “Material Culture in the Mapping of a Maritime Muslim World: A Case Study in Field Documentation and Open-Access Archiving.”

Pendekatan baru dalam pelestarian data arkeologi warisan budaya maritim di Situs Bongal sangat penting untuk mendukung kajian yang lebih sistematis. Khususnya tentang artefak yang berkaitan dengan pertukaran dagang dan budaya, serta memperdalam pemahaman mengenai kontribusi jejaring maritim terhadap sejarah budaya Islam di kawasan maritim Asia.

Pada abad ke-7 hingga abad ke-10 M, jalur perdagangan maritim yang menghubungkan Timur Tengah, India, Asia Tenggara dan Asia Timur mengalami perkembangan pesat. Di tengah jejaring maritim tersebut, Sumatra dengan pelabuhan-pelabuhannya yang menghadap ke perairan Samudra Hindia, menjadi simpul penting dalam rute niaga tersebut.

Bukti tekstual maupun temuan data arkeologi menunjukkan eksistensi pelabuhan-pelabuhan di bagian sisi barat Pulau Sumatra selain di sisi timurnya. Bahwa kawasan tersebut menjadi lokasi singgah para pelayar yang datang dari pusat aktivitas maritim di Teluk Persia, sekaligus menandai interaksi awal Islam sejak abad ke-7 M.

Melalui Situs Bongal, diskursus kemaritiman muncul dalam memperkaya pandangan terhadap narasi sejarah modern yang sering kali menempatkan perkembangan Islam di Nusantara dalam kerangka politik negara-bangsa, yang menekankan proses Islamisasi setelah abad ke-13. Temuan di Bongal menantang pandangan ini dengan menunjukkan bukti keterlibatan lebih awal masyarakat lokal dalam jejaring global Islam, baik melalui perdagangan, pertukaran teknologi, maupun adopsi elemen budaya material.

Ekskavasi di Situs Bongal telah menghasilkan beragam artefak yang menunjukkan adanya kontak intensif antara komunitas lokal dan pedagang Muslim dari berbagai wilayah. Ditemukan artefak berbahan kaca, tembikar turquoise glaze, wadah Qalam, artefak logam alat medis, lempengen logam berinskripsi Arab, manik-manik, pecahan tembikar/gerabah Asia Selatan, pecahan keramik dan porselen Cina, serta komoditas utama di Situs Bongal yaitu aromatika sisa resin pohon kapur (Dryobalanops aromatica) dan sisa-sisa komoditas rempah di antaranya kacang-kacangan dan biji-bijian seperti pala (Myristica fragrans), kemiri (Aleurites moluccanus), kapulaga (Amomum compactum), dan keluwak/kepahyang/pucung (Pangium edule).

Temuan-temuan ini bukan hanya memperkaya data arkeologi regional, tetapi juga membuka ruang interpretasi baru tentang dinamika Islamisasi di Nusantara. Sumatra tidak sekadar menjadi penerima pengaruh, melainkan juga bagian aktif dalam jaringan maritim yang berperan menyebarkan gagasan, teknologi, dan nilai-nilai budaya Islam di Asia Tenggara.

Untuk memahami data arkeologis dari situs Bongal secara komprehensif, diperlukan pendekatan dokumentasi yang sistematis dan terbuka. Dalam konteks ini, Maritime Asia Heritage Survey (MAHS) menawarkan pendekatan yang tepat dalam mendokumentasikan dan mengarsipkan warisan budaya material maritim tersebut.

Hal tersebut dilakukan dengan metode digitalisasi tiga dimensi, pemetaan geografis, dan katalogisasi terbuka, yang memungkinkan para peneliti mengakses data lintas negara untuk menganalisis pola-pola pertukaran budaya dan ekonomi maritim secara lebih luas.

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kerja kolaboratif antarpeneliti, tetapi juga membantu pelestarian data arkeologis yang rentan terhadap kerusakan lingkungan dan aktivitas manusia. Dengan demikian, Bongal menjadi contoh nyata bagaimana integrasi metode arkeologi dengan teknologi digital dapat menghasilkan pemahaman baru tentang sejarah kawasan.

ADVERTISEMENT

Pelestarian warisan budaya ini perlu dilakukan karena Situs Bongal memperlihatkan bahwa jejaring maritim Islam bukanlah sistem yang seragam, melainkan jaringan kompleks yang melibatkan berbagai aktor lokal dengan tingkat partisipasi berbeda.

Keterlibatan masyarakat Sumatra dalam jejaring ini memperlihatkan adanya mobilitas sosial dan ekonomi yang tinggi, serta kemampuan adaptasi budaya terhadap pengaruh luar. Dalam konteks yang lebih luas, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan lintas-disiplin antara arkeologi, sejarah, dan studi Islam maritim untuk memahami bagaimana interaksi global membentuk identitas lokal di kawasan Asia Tenggara.

Previous Post

Abd al-Latif al-Baghdadi Ilmuwan Muslim Abad 12 M, Pelopor Observasi Bioarkeologi Modern

Next Post

Peneliti Intellectual History: Situs Bongal Memberi Pencerahan dan Memperkaya Pengetahuan

Editor

Editor

Related Posts

“Koin Fulus Daulah Abbasiyah”
Islamic Civilization

Studi Paleografi Komparatif-Kuantitatif dalam Analisis Numismatik Koin Berinskripsi Arab Temuan Situs Bongal

26 Maret 2026
Teknologi Kapal Lashed-Lug dan Peran Asia Tenggara dalam Jejaring Perdagangan Maritim Samudra Hindia
Islamic Civilization

Teknologi Kapal Lashed-Lug dan Peran Asia Tenggara dalam Jejaring Perdagangan Maritim Samudra Hindia

24 Maret 2026
Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim Nusantara
Islamic Civilization

Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim Nusantara

17 Maret 2026
Pembentukan Wilayah Perbatasan (Frontiers) Dunia Islam dalam Jejaring Perdagangan Maritim Global
Islamic Civilization

Pembentukan Wilayah Perbatasan (Frontiers) Dunia Islam dalam Jejaring Perdagangan Maritim Global

14 Maret 2026
Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M
Islamic Civilization

Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

12 Februari 2026
Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina
Islamic Civilization

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

17 Januari 2026
Next Post

Peneliti Intellectual History: Situs Bongal Memberi Pencerahan dan Memperkaya Pengetahuan

POPULAR

“Koin Fulus Daulah Abbasiyah”

Studi Paleografi Komparatif-Kuantitatif dalam Analisis Numismatik Koin Berinskripsi Arab Temuan Situs Bongal

26 Maret 2026
Teknologi Kapal Lashed-Lug dan Peran Asia Tenggara dalam Jejaring Perdagangan Maritim Samudra Hindia

Teknologi Kapal Lashed-Lug dan Peran Asia Tenggara dalam Jejaring Perdagangan Maritim Samudra Hindia

24 Maret 2026
Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim Nusantara

Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim Nusantara

17 Maret 2026
Pembentukan Wilayah Perbatasan (Frontiers) Dunia Islam dalam Jejaring Perdagangan Maritim Global

Pembentukan Wilayah Perbatasan (Frontiers) Dunia Islam dalam Jejaring Perdagangan Maritim Global

14 Maret 2026
Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

12 Februari 2026
Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

17 Januari 2026
Kunjungan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB): Dari Historiografi hingga Artefak sebagai Bukti Ketinggian Peradaban Islam

Kunjungan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB): Dari Historiografi hingga Artefak sebagai Bukti Ketinggian Peradaban Islam

11 Januari 2026
Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

Sultanate Institute Menginisiasi Kolaborasi Riset Sejarah Peradaban Islam

3 Januari 2026
Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M

Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M

2 Januari 2026
Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

31 Desember 2025
ADVERTISEMENT

Sultanate Institute. All Right Reserved

  • Profile
  • About Us
  • Contact Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan