Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah menerima kunjungan mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin (18/05/2026).
Kunjungan ini merupakan kegiatan studi lapangan mahasiswa bertema “economic and numismatic” dalam rangka memperkaya pengetahuan sumber-sumber sejarah dalam historiografi Islam Indonesia.
Koleksi artefak terutama temuan Situs Bongal mengajak mahasiswa memahami lebih mendalam proses dakwah dan Islamisasi sehingga membentuk peradaban awal Islam di Nusantara sejak abad ke-7 M.
Kunjungan edukatif ke Museum Abad Satu Hijriyah juga sebagai bagian dari memperluas wawasan kesejarahan peradaban Islam di Nusantara. Mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang penting untuk memahami secara langsung jejak-jejak awal interaksi Dunia Islam dengan Nusantara melalui koleksi artefak, manuskrip, dan temuan yang tersimpan di museum.
Tampilan dan tata pamer koleksi di Museum Abad Satu Hijriyah memberikan gambaran tentang bagaimana proses dakwah berdampak pada pembentukan peradaban secara global. Tak terkecuali wilayah Nusantara sejak abad ke-7 M melalui pesisir barat Sumatra.
Sumber-sumber sejarah dan data arkeologi yang ditemukan menunjukkan bahwa sejarah dakwah Islam adalah sejarah tentang terbentuknya sistem ekonomi dan jejaring perdagangan, pertukaran ilmu pengetahuan, serta pertemuan budaya yang menjadi bagian dari perkembangan masyarakat di wilayah Nusantara sejak masa awal Islamisasi.
Seperti tema kuliah lapangan yang diusung, sejarah peradaban Islam seiring berlangsungnya dakwah adalah tentang sejarah ekonomi, sejarah maritim, dan tema sejarah lain yang dapat dipahami melalui beragam pendekatan seperti numismatik, pengetahuan kemaritiman, teknologi perkapalan, serta pengetahuan tentang permukiman dan tata kota.
Melalui penjelasan dan pengamatan langsung terhadap koleksi artefak, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh Dunia Islam dalam menghubungkan jalur perdagangan maritim yang berkembang di kawasan Samudra Hindia.
Dalam segi akademik, kuliah lapangan ke museum selain mendekatkan mahasiswa dengan sumber maupun data kesejarahan, juga menjadi ruang refleksi dan memperkuat relasi akademik. Kegiatan perkuliahan diperkaya dengan gambaran proses riset dan praktik pelestarian warisan budaya secara berkelanjutan.
Kunjungan ini menjadi ruang belajar untuk memahami jejak awal interaksi Dunia Islam dengan Nusantara, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya.















