Sultanate Institute bersama Perpustakaan Universitas Sumatra Utara (USU) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatra Utara (MSI-Sumut) menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I–IV H/VII–X M” pada Sabtu (4/7/2026), di Ruang Konferensi Perpustakaan Universitas Sumatra Utara, Medan.
Forum akademik ini menghadirkan diskursus mutakhir penulisan sejarah dan kajian warisan budaya maritim Indonesia. Lebih khusus buku yang dibahas memberikan data dan wawasan terbaru tentang interaksi awal Dunia Islam dengan Nusantara melalui kawasan Pantai Barat Sumatra sejak abad ke-7 hingga ke-10 M.
Dijelaskan secara langsung oleh penulis buku, Abu Bakar (Founder Sultanate Institute) dan Ery Soedewo (arkeolog dan peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN), bahwa penulisan buku ini didasarkan pada hasil penelitian arkeologi, melalui pendekatan arkeologi-sejarah dengan melakukan telaah terhadap sumber sejarah dan literatur terkait.
Pendekatan ini memungkinkan kita memahami ruang budaya dan kesejarahan masyarakat di kawasan pesisir barat Sumatra dalam konteks perkembangan riset arkeologi serta historiografi Indonesia. Buku ini merangkumnya dengan mengungkap eksistensi Pesisir Barat Sumatra sebagai jejaring perdagangan maritim global yang digerakkan oleh Dunia Islam pada masa awal perkembangannya yaitu abad ke-7 M.
Hal tersebut dibuktikan oleh temuan data-data arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Situs Bongal menunjukkan hubungan kompleks aktivitas perdagangan, pertukaran budaya, serta interaksi masyarakat Nusantara dengan para pelaut, pedagang, dan ilmuwan Muslim dari Jazirah Arab, Teluk Persia, hingga Asia Selatan sejak abad ke-7 M.

Dalam paparannya, para penulis menegaskan bahwa buku ini berupaya menghadirkan inklusivitas sejarah maritim Indonesia dengan menempatkan Pesisir Barat Sumatra sebagai jejaring simpul penting dalam aktivitas perdagangan dengan Samudra Hindia. Temuan ini diharap dapat memperkaya historiografi Indonesia yang didominasi oleh narasi besar Pesisir Timur Sumatra.
Buku ini dibedah oleh narasumber yang turut hadir Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., Kepala Perpustakaan Universitas Sumatra Utara Prof. Dr. Syahril Efendi, S.Si., M.IT., serta dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara Warjiyo, Ph.D.
Diskusi secara interaktif melibatkan dosen, mahasiswa, peneliti, arkeolog, sejarawan, pustakawan, serta masyarakat umum berbagi pandangan dan tanggapan bagaimana kontribusi data arkeologi dapat secara metodologis berperan dalam penulisan sejarah Indonesia.
Buku ini juga menekankan pendekatan multidisipliner yang sangat didorong dalam kajian kemaritiman, serta peluang pengembangan penelitian lanjutan mengenai hubungan Nusantara dengan Dunia Islam pada masa awal.
Buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M” menguraikan rekam jejak penting kawasan pantai barat Sumatra yaitu Situs Bongal dan Barus sebagai jejaring simpul utama perdagangan global seiring dengan masa dakwah Islam sejak abad ke-7 M.
Analisis temuan data arkeologi di Situs Bongal dan Barus, memberi pemahaman yang dapat mewarnai narasi dominan mengenai wilayah barat Sumatra yang dianggap tereksklusi pada era awal masuknya Islam, serta menekankan keberadaan ruang budaya dan sejarah kawasan ini sejak abad ke-1 Hijriah (ke-7 M).
Riset Mendatang Warisan Budaya Maritim dan Penulisan Sejarah
Kolaborasi antara Sultanate Institute, Perpustakaan Universitas Sumatra Utara, dan MSI-Sumut meletakkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem akademik melalui diseminasi hasil penelitian kepada publik dan masyarakat luas.
Bedah buku yang diselenggarakan juga diharap menjadi awal dari kerja sama yang konsisten dalam pengembangan riset, publikasi ilmiah, serta pelestarian warisan budaya maritim di Sumatra Utara.
Melalui penerbitan dan bedah buku, Sultanate Institute terus mendorong lahirnya riset dan kajian melalui pendekatan arkeologi-sejarah (historical-archaeology). Kehadiran buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I–IV H/VII–X M” diharap dapat menjadi rujukan literatur bagi kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, maupun masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah maritim Indonesia dan dinamika awal hubungan Nusantara dengan Dunia Islam.

Bedah buku yang dihadiri oleh berbagai kalangan, baik akademisi, sejarawan, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang menaruh perhatian besar pada dinamika sejarah peradaban Islam dan maritim di Nusantara.
Perpustakaan USU menyampaikan apresiasi yang tinggi atas komitmen Sultanate Institute pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian warisan budaya berkelanjutan. Perpustakaan perguruan tinggi juga menjalankan perannya sebagai pusat kegiatan diseminasi ilmu pengetahuan dan literasi sejarah.
Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatera Utara (MSI-Sumut) juga menyoroti pentingnya pembacaan kritis terhadap sumber-sumber primer dalam kajian maritim Islam. Buku terbitan Sultanate Institute dinilai memberikan dorongan segar bagi kajian historiografi lokal agar lebih berani bersaing di tingkat global.
Narasumber membedah metodologi, temuan lapangan, serta analisis historis yang dituangkan dalam buku. Para peserta diajak menyelami bagaimana komoditas lokal seperti kapur (Dryobalanops aromatica) menjadi daya tarik utama yang menghubungkan pedagang Muslim dari Timur Tengah dan Asia Selatan dengan pelabuhan-pelabuhan di Sumatra.
Dialog dengan peserta berbicara mengenai implikasi temuan data arkeologi di Situs Bongal terhadap penulisan ulang sejarah masuknya Islam di Indonesia, serta bagaimana warisan maritim ini dapat menjadi modal kebudayaan di masa depan.
Melalui penyelenggaraan acara ini, Sultanate Institute bersama Perpustakaan USU dan MSI-Sumut berharap dapat terus memantik minat generasi muda untuk mempelajari, mendalami, serta mengkontestasikan narasi sejarah bangsa berbasis sumber sejarah dan bukti empiris data arkeologi.
















