Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) sekaligus Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan Agus Mulyana dalam kegiatan Bedah Buku yang diselenggarakan Sultanate Institute bersama Perpustakaan Universitas Sumatra Utara dan Masyarakat Sejarah Indonesia Sumatra Utara (MSI-Sumut) pada Sabtu (4/7/2026) mengapresiasi terbitnya buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M”.
Buku tersebut disusun dengan sangat baik dan hadir dalam kajian historiografi Indonesia, untuk memperkuat bagaimana proses dakwah Islam berlangsung di Indonesia (Kepulauan Nusantara) melalui pesisir barat Sumatra sejak abad ke-7 M, yaitu masa awal Islam.
Data-data arkeologi serta sumber sejarah yang dijelaskan dalam buku ini mengatakan bahwa persentuhan Islam di Indonesia dilakukan melalui proses interaksi, yang di dalamnya berlangsung transfer pengetahuan dan kebudayaan, sehingga membentuk peradaban masyarakat muslim.
Data arkeologi di Situs Bongal maupun Barus beserta sumber sejarah menunjukkan hal tersebut. Temuan artefak di antaranya koin (mata uang) berinskripsi Arab, artefak kaca berbentuk botol kecil maupun besar, keramik/tembikar berjenis turquoise glaze, wadah Qalam, artefak logam alat medis, lempengen logam berinskripsi Arab, serta manik-manik.
Data yang ditemukan di Situs Bongal membuktikan bahwa kedatangan Islam dan proses Islamisasi tidak hanya diartikan secara sempit, melainkan sebuah proses pembentukan sistem yang dilandasi oleh sendi-sendi ajaran agama Islam.
Dalam konteks historiografi Islam Indonesia, apa yang terungkap melalui Situs Bongal dan Barus mengukuhkan penjelasan Buya Hamka dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia tahun 1963 di Medan.

Kebaruan kajian dan hasil penelitian seperti ini yang penting kita dorong untuk diseminasi, sehingga dampaknya bukan hanya menjadi pembahasan dalam ranah akademik, tetapi juga pada penguatan identitas dan sejarah melalui pembelajaran kepada generasi mendatang.
Sebagai Guru Besar Sejarah di dalam pendidikan para calon guru, Prof. Agus Mulyana mendorong kebaruan hasil penelitian yang bersifat akademik ditransfer dalam bentuk-bentuk materi pembelajaran dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah.
Integrasi antara penelitian dengan dunia pendidikan dan pengajaran seperti inilah yang menjadi basis penguatan identitas dan sejarah bangsa. Sejarah mestinya dapat menumbuhkan mentalitas bangsa yang berdaulat.
Seperti dalam memahami bagaimana rekonstruksi Situs Bongal di masa lampau, bahwa sejak abad ke-7 M pesisir barat Sumatra merupakan rute jejaring perdagangan dan pelayaran global yang terhubung dengan wilayah perairan Samudra Hindia.
Kemampuan masyarakat dalam memahami lingkungan alam di kawasan pesisir barat Sumatra menjadikan mereka memiliki nilai tawar perdagangan. Dalam hal ini adalah produksi komoditas rempah-aromatika endemik hutan Sumatra Utara yaitu getah pohon kapur atau Dryobalanops aromatica. Hal tersebut dijelaskan dengan rinci dalam buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M”.
Penulisan sejarah tentang apa yang dijelaskan dalam buku tersebut juga sudah dituangkan dalam Buku “Sejarah Indonesia” jilid 3. “Setelah buku Sejarah Indonesia diterbitkan dan selesai dicetak, saya sebagai Direktur Sejarah dan Permuseuman akan mencoba bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sehingga diharapkan nanti menjadi bagian dari materi pelajaran sejarah dengan informasi-informasi yang baru”, jelas Agus Mulyana.
Ia menutup diskusi dalam kegiatan bedah buku dengan apresiasi dan dukungan untuk terus melangsungkan diseminasi hasil penelitian Situs Bongal. Ia mengatakan “Kegiatan diseminasi hasil-hasil penelitian terbaru dalam historiografi Indonesia seperti ini diharapkan terus berlanjut. Khususnya tentang Situs Bongal tidak hanya berhenti di sni”.
















