Jugrafiya dalam tradisi intelektual Islam sangat sering memberi kontribusi pada pemahaman sejarah. Karya para ilmuwan jugrafiya juga telah digunakan oleh banyak peneliti sebagai sumber dalam historiografi atau penulisan sejarahnya. Tidak hanya dalam konteks global, penulisan sejarah dalam konteks lokal dan regional pun dapat bersumber pada karya-karya jugrafiya.
Karya para ilmuwan jugrafiya tak lain merupakan kegiatan menciptakan rekaman peristiwa. Rekaman peristiwa yang berlangsung tersebut kemudian menjadi dokumen bersejarah yang mengilhami lahir dan berkembangnya pengetahuan-pengetahuan baru pada masa setelahnya.
Kegiatan itulah yang menandai suatu kegiatan yang bernilai sejarah. Ia diciptakan sebagai pengetahuan pada masanya sekaligus warisan memori untuk masa selanjutnya. Namun pertanyaan yang perlu diajukan, apakah jugrafiya merupakan disiplin ilmu yang sama dengan ilmu sejarah atau tarikh dalam tradisi intelektual Islam ?
Tradisi intelektual Islam menunjukkan pemisahan yang jelas antara keduanya. Hal ini didasarkan pada kesadaran metodologi bahwa jugrafiya membahas peristiwa dan menciptakan rekaman peristiwa yang berlangsung dalam pendekatan ruang atau lingkungan sekitar, sementara tarikh atau ilmu sejarah memaknai, memanfaatkan, dan melestarikan memori berdasarkan karya jugrafiya (rekaman peristiwa) dengan ruang lingkup ruang dan waktu tertentu dalam rangka memberi pemahaman terhadap masa kini dan masa depan.
Beberapa alasan mendasar mengapa dalam tradisi intelektual Islam jugrafiya terpisah dari tarikh. Ia menjadi disiplin tersendiri dan pembahasan serta narasi yang berbeda karena adanya kebutuhan administratif dan tata kelola pemerintahan Islam. Hal ini sejalan dengan futuhat wilayah Islam yang semakin meluas.
Ketika wilayah kekhalifahan Islam meluas dari Spanyol hingga mendekati perbatasan Cina, pusat pemerintahan membutuhkan data yang riil dan tepat mengenai ruang, bukan hanya kronologi peristiwa sejarah.
Otoritas Dunia Islam perlu mengetahui berapa jarak dari Baghdad ke kota Jambi (Kalah) di wilayah Timur. Komoditas apa saja yang wajib ditarik pajak di bandar tersebut, serta di mana saja titik sumber air dan pos birokrasi pos (al-barid) berada.
Kebutuhan yang bersifat praktis inilah yang kemudian melahirkan karya seperti kitab Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Karya jugrafiya khusus seperti karya Ibnu Khurradadzbih atau Al-Istakhri ditulis sebagai “buku panduan geopolitik-ekonomi dan rantai pasok” bagi negara.
Jugrafiya dalam tradisi Islam juga memiliki cabang yang sangat rinci bernama Jugrafiya al-Falakiyah (Geografi Astronomis). Ini adalah sains murni yang melibatkan matematika, fisika, dan pengamatan bintang, sesuatu yang sama sekali tidak dibahas dalam tarikh. Oleh karena itulah kebutuhan akan sains astronomi dan navigasi samudra dibutuhkan.
Para ilmuwan jugrafiya harus menghitung lingkar bumi, menentukan koordinat garis lintang (tul) dan garis bujur (ard) suatu kota, serta memetakan pengaruh rasi bintang terhadap rute pelayaran. Karya-karya navigasi laut (rahmani) seperti milik Ahmad bin Majid atau Sulaiman al-Mahri murni berisi kalkulasi matematis angin muson dan kedalaman laut. Pembahasan sains eksakta seperti ini membutuhkan ruang akademis tersendiri, terpisah dari metode narasi tekstual (isnad) yang dipakai dalam ilmu tarikh.
Kemudian para ilmuwan jugrafiya sekaligus juga mewarisi pengetahuan Yunani (Ptolemeus) serta menyempurnakannya secara radikal melalui pengamatan langsung. Mereka memiliki teori bahwa bumi dibagi menjadi tujuh zona iklim (aqalim). Di sinilah titik di mana jugrafiya memberi pemahaman melalui konsep ruang yang mandiri yang melahirkan teori Tujuh Iklim (Al-Aqalim al-Sab’ah).
Dalam beberapa karya jugrafiya, para ilmuwan membahas secara khusus bagaimana iklim di suatu wilayah memengaruhi pembentukan karakter manusia, jenis flora, fauna, hingga kandungan mineral di dalam tanahnya. Seperti mengapa pohon kapur Dryobalanops aromatica berkualitas tinggi hanya bisa tumbuh di zona kepulauan tertentu. Pengetahuan terhadap kondisi lingkungan dan geografi fisik tersebut memerlukan pengamatan empiris di lapangan. Para ilmuwan jugrafiya juga bertindak seperti ilmuwan alam.
Disiplin jugrafiya juga memiliki metode pengumpulan data yang berbeda. Cara kerja keduanya cukup kontras dna melahirkan bentuk literatur yang berbeda. Jugrafiya penelusuran datanya dilakukan dengan rihlah (observasi lapangan), sementara ilmu sejarah atau tarikh kriteria sumber terkuat adalah berdasarkan isnad (ketersambungan riwayat).
Tarikh sangat bergantung pada kekuatan sanad, transmisi lisan (oral history), dokumen tertulis, dan kritik riwayat atau kritik sumber. Sejarawan duduk di perpustakaan menyusun sebuah makna dari kronologi suatu peristiwa tertentu dan mengamati suatu fenomena masyarakat untuk memberikan pemahaman sejarah bagi masa kini dan masa depan. Dapat diartikan tarikh adalah akumulasi ingatan atau memori kolektif tentang peristiwa masa lampau.
Sementara jugrafiya sangat bergantung pada rihlah (penjelajahan langsung) dan observasi empiris. Ilmuwan jugrafiya seperti Al-Muqaddasi atau Ibnu Hawqal menjelajahi dunia secara fisik, menggambar peta berdasarkan apa yang mereka lihat sendiri, mendatangi pasar-pasar, dan mewawancarai nakhoda kapal. Al-Muqaddasi bahkan dengan bangga menyatakan bahwa ia tidak memasukkan data ke kitabnya kecuali ia telah memverifikasinya sendiri di lapangan.
Tradisi intelektual Islam memisahkan keduanya karena jugrafiya adalah instrumen praktis untuk menguasai, mengelola, dan menggerakkan dunia secara riil. Sayangnya, karena kedua ilmu ini terpisah dengan rapi, ketika umat Islam hari ini tidak begitu tertarik pada kitab-kitab jugrafiya masa abad pertengahan, di satu sisi Barat mengambil cetak biru ruang yang sangat terperinci dari kitab-kitab itu untuk memetakan jalur imperialisme mereka.
















