Sultanate Institute melakukan survei ke sejumlah situs di Pulau Bangka bersama peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ery Soedewo dan Muhamad Nofri pada Rabu-Minggu (14-18/10/2026).
Survei ini bertujuan untuk melakukan pengamatan awal terhadap tinggalan arkeologi di Pulau Bangka. Salah satu lokasi yang dituju adalah kawasan Teluk Kelabat. Lokasi ini diduga memiliki potensi jejak kepurbakalaan sebab secara geografis lokasi ini menghadap ke Laut Natuna Utara dan Laut China Selatan.
Pengamatan untuk mendapat data lapangan juga dilakukan ke kawasan Belinyu, tepatnya di sekitar kawasan muara batu dinding. Di sekitar batu dinding ini ada pelabuhan nelayan yg masih aktif hingga saat ini. Di kawasan pelabuhan ini juga dua buah sumur tua masih aktif digunakan masyarakat setempat.
Keberadaan sumur di kawasan pesisir ini menjadi perhatian penting, sebab jika merujuk pada teks-teks pelayaran Arab, terdapat banyak catatan yg membahas tentang suatu lokasi bernama Kalah yang memiliki karakteristik geografi dan sosiologi yang mendekati lokasi di Pulau Bangka ini.
Di ujung Teluk Kelabat terdapat Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka. Di kaki Bukit Maras yang menghadap ke Teluk Kelabat, banyak ditemukan habitat pohon gaharu. Teks Arab juga menjelaskan bahwa lokasi Kalah memproduksi komoditas alam gaharu dengan kualitas tinggi, berwarna hitam pekat dan tenggelam di dalam air.
Survei di kawasan Belinyu menemukan banyak tambang timah masyarakat. Timah yang dihasilkan di kawasan ini adalah jenis timah putih. Hal ini seperti yang diterangkan dalam teks geografer muslim, bahwa Kalah juga penghasil timah putih. Namun di Teluk Kelabat belum ditemukan tanda-tanda singkapan pecahan keramik.
Berdasarkan survei yang dilakukan, terdapat tiga hal penting yang dapat dipelajari di Teluk Kelabat. Selain dua fakta tentang timah dan gaharu seperti disebut di atas, toponimi dari Kelabat itu sendiri menjadi penting untuk dipelajari lebih mendalam.
Nama Kelabat berasal dari kata “kelabet”. Para pelayar dari Laut China Selatan menggunakkan Gunung Maras dan Teluk Kelabat sebagai penanda kawasan (mereka menyebutnya sebagai pandum) agar pelayar tidak tersesat ke kiri masuk Selat Gaspar yang berbahaya. Oleh karena itu, nama Kelabat bersumber dari makna istilah “kelabet”. Ketika ada kelabet teluk dan gunung, tandanya para pelayar harus lebih hati-hati.
Untuk data artefak, belum ada temuan signifikan. Seperti dugaan kemungkinan ditemukan artefak keramik pada masa Dinasti Tang dan Sung. Untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi, tim survei kemudian mengunjungi Museum Timah di Kota Pangkal Pinang.
Di Museum Timah, tim mendapati temuan keramik dari masa Dinasti Tang yang konteksnya didapat dari penambangan timah yang ada di Penagan. Lokasi Penagan terletak di samping Kota Kapur. Maka tim juga memeriksa lokasi Kota Kapur, waktu tempuh sekitar 40 menit dari Pangkal Pinang.
Di Kota Kapur tim semakin mendapat banyak sekali kemiripan data antara teks geografer muslim dengan lokasi geografis Situs Kota Kapur. Berdasarkan pengamatan di lapangan sementara, Situs Kota Kapur memiliki potensi dan dugaan paling kuat yang menunjukkan lokasinya sebagai lokasi Kalah dalam deskripsi teks geografer muslim.
Dari survei yang dilakukan, selanjutnya diperlukan data sebanyak mungkin untuk mengumpulkan semua informasi terkait pengamatan di Kota Kapur. Selain itu, perlu semakin diperkuat pula data dari teks geografer muslim tentang loksdi Kalah, dan tentu pusat kerajaan maharaja. Oleh karena itu, diperlukan penelusuran tekstual terhadap sumber dokumen teks geografer muslim sebanyak mungkin.
















