Jugrafiya sebagai disiplin yang mempertemukan ilmu sosial dan sains secara lebih mendalam sebenarnya menyimpan kandungan informasi dan pengetahuan geopolitik.
Dalam tradisi intelektual Islam, Jugrafiya bukan hanya membahas tentang nama lokasi, situasi, kondisi lingkungan, maupun keterangan navigasi. Jugrafiya justru menunjukkan suatu cetak biru geopolitik global, informasi rantai pasok dan kegiatan ekonomi, serta kebutuhan pertahanan dan kemaritiman.
Ketika membaca peta-peta karya Al-Istakhri, Ibnu Hawqal, atau Al-Idrisi, sebenarnya kita sedang melihat peta kendali dunia. Inilah mengapa para penulis dan ilmuwan Jugrafiya, ia juga merupakan para pengamat handal, penjelajah terlatih, dan penasihat militer terpercaya.
Oleh karena itu, Jugrafiya yang kita kenal dari karya-karya para ilmuwan muslim sejatinya merupakan sebuah bahasa lain untuk menyebut pengetahuan geopolitik global dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Hal tersebut misalnya dapat dilihat dari salah satu karya ilmuwan Jugrafiya yang diberi judul “Al-Masalik wa Al-Mamalik”. Sekilas dilihat dari judulnya, karya ini seperti menunjukkan buku yang besifat hafalan sebagai panduan wisata. Akan tetapi bagi aktivitas Dunia Islam pada masa itu, karya tersebut merupakan dokumen penting mengenai geostrategi.
Karya-karya berjudul “Al-Masalik wa Al-Mamalik” secara khusus ditulis sebagai informasi Dunia Islam memahami situasi global. Agar mengetahui di mana titik lokasi suatu wilayah, di mana bandar/kota pelabuhan, dan bagaimana membentuk jejaring global yang saling terhubung dalam naungan dakwah Islam.
Teori geopolitik modern mengatakan bahwa siapa yang menguasai selat-selat strategis, dia akan menguasai dunia. Namun jauh sebelum konstruksi teori geopolitik modern tersebut, para ilmuwan muslim telah melakukan pemetaan terhadap lokasi-lokasi strategis, yang kemudian menjadi fondasi bagi teori geopolitik modern tersebut.
Mereka membahas secara rinci dan kompleks apa yang dinamakan dengan Laut Kembar atau Bahr al-Fars (Teluk Persia/Laut Oman) dan Bahr al-Qulzum (Laut Merah). Mereka memetakan bagaimana kedua laut ini menjadi gerbang utama yang menghubungkan Samudra Hindia ke Laut Mediterania.
Ketika mereka membahas Kepulauan Timur (Nusantara), fokusnya adalah Bagaimana rute kapal dari pelabuhan Siraf dan Basrah bisa lolos dari tantangan-tantangan kemaritiman yang kapan saja dapat terjadi, untuk sampai ke jembatan dagang dengan Cina atau kawasan Asia Timur.
Pada periode selanjutnya kemudian para kalangan ilmuwan Barat dengan besar-besaran menerjemahkan teks-teks Jugrafiya Arab ke dalam bahasa mereka. Maka dapat kita telusuri banyak publikasi terjemahan karya-karya Jugrafiya ilmuwan muslim dalam sejumlah bahasa.
Hal ini karena mereka membutuhkan data dan pengetahuan matang untuk menjajah Timur. Masyarakat Barat tahu, komoditas berharga seperti kapur barus, emas, dan rempah-rempah-aromatika ada di Kepulauan Timur, dan peta paling akurat untuk menuju ke sana beserta data navigasi bintangnya hanya dimiliki oleh para ilmuwan Jugrafiya muslim.
Barat menerjemahkan Jugrafiya muslim menjadi dokumen kolonialisme. Mereka mengubah pengetahuan mengenai ruang wilayah dan kawasan menjadi senjata untuk mengunci kepentingan geopolitik.
Jika Fiqh adalah hukum untuk mengatur jiwa dan masyarakat, dan Tarikh adalah ingatan untuk mencatat waktu, maka Jugrafiya adalah senjata dan perisai untuk menguasai bumi.
Kehancuran terbesar umat Islam hari ini adalah ketika kita mengira Jugrafiya sudah digantikan oleh pelajaran Geografi sekuler Barat. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang buta geopolitik, kita hidup di atas wilayah maritim yang paling strategis di dunia (Nusantara), tetapi pikiran kita lumpuh, tidak tahu cara mengelolanya, dan akhirnya ruang hidup kita terus-menerus didikte dan dieksploitasi oleh kekuatan global asing.
















