Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah menerima kunjungan arkeolog, Bapak Supratikno Rahardjo pada Rabu (17/06/2026). Beliau merupakan salah satu arkeolog generasi awal di Indonesia.
Kunjungan ini menjadi penting dalam kerangka diskursus arkeologi maritim Indonesia. Sebab Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah mendapat wawasan yang lebih luas dalam khazanah riset arkeologi maritim dan pelestarian warisan budaya berkelanjutan dari beberapa karya dan publikasi beliau.
Selain itu, Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah juga semakin memperdalam analisis kemaritiman terhadap data-data arkeologi Situs Bongal dan bagaimana strategi pelestariannya di masa mendatang.
Sebagai arkeolog yang banyak berkarya dalam bidang arkeologi maritim, pelestarian cagar budaya, dan pengembangan metodologi arkeologi di Indonesia, Supratikno memberikan kontribusi penting melalui berbagai publikasi ilmiah.
Beberapa karya dalam arkeologi maritim di antaranya adalah Kajian Arkeologi Maritim di Indonesia: Sebuah Pengantar (2018), Prospek dan Tantangan Arkeologi Maritim di Indonesia (2009), dan Tuban: Kota Pelabuhan di Jalan Sutra (1997). Buku dan publikasi tersebut mewarnai perkembangan riset arkeologi maritim dan menjadi bahan rujukan di Indonesia.

Dalam kunjungan pada Rabu (17/06/2026), Museum Abad Satu Hijriyah memamerkan sejumlah koleksi artefak terutama hasil penelitian Situs Bongal. Beberapa di antaranya fragmen kayu kapal, koin berinskripsi Arab, beragam artefak logam, keramik, dan manik-manik.
Berbagai koleksi tersebut menunjukkan bukti kuat bahwa pesisir barat Sumatra merupakan salah satu simpul penting dalam jejaring perdagangan Samudra Hindia yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Timur Tengah, India, dan Tiongkok sejak ke-7 M.
Diskusi yang berlangsung juga banyak membahas dan menyoroti pentingnya pendekatan multidisipliner dalam penelitian sejarah maritim Indonesia. Menurut dosen UI tersebut, penelitian arkeologi tidak hanya berfokus pada identifikasi artefak, tetapi juga menelusuri lebih rinci aspek sosial, ekonomi, pengetahuan, dan teknologi, yang membentuk suatu ruang budaya maritim.
Hal tersebut juga tercermin dalam temuan-temuan di Situs Bongal, yang menyimpan potensi warisan budaya maritim yang kompleks, sehingga memerlukan keterlibatan ilmu-ilmu bantu yang relevan.
Supratikno juga mengapresiasi Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah, atas riset serta upaya pelestarian berkelanjutan di Situs Bongal. Ke depan, Sultanate Institute dan Museum Abad Satu Hijriyah diharapkan terus memperkuat basis akademik melalui jejaring peneliti, dosen, dan juga arkeolog baik di Indonesia maupun dalam lingkup global.
Supratikno juga memberikan dorongan untuk terus mengembangkan kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan komunitas arkeologi, dalam rangka saling berbagi dan melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian Situs Bongal.
















