Sultanate Institute melalui Museum Fansuri Situs Bongal menjalin pertemuan dalam nuansa akademik ke Sekolah Tinggi Agama Islam Barus (STAIB) pada Rabu (10/06/2026). Pertemuan dalam rangka semakin memperkuat jejaring dan sinergi lembaga riset dan pelestarian warisan budaya dengan institusi pendidikan tinggi.
Kunjungan Museum Fansuri Situs Bongal juga menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mengembangkan riset sejarah dan arkeologi maritim Islam serta pelestarian berkelanjutan warisan budaya di kawasan Barus dan Situs Bongal.
Dalam suasana penuh semangat keilmiahan, diskusi berlangsung membicarakan berbagai potensi kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan literasi sejarah Islam di Indonesia.
Khususnya bagaimana semakin mendekatkan pembelajaran sejarah kepada masyarakat di Tapanuli Tengah. Agenda pelestarian berkelanjutan juga menjadi misi strategis dalam melibatkan komunitas masyarakat terhadap Barus dan Situs Bongal.
Dalam pertemuan tersebut, Museum Fansuri Situs Bongal memaparkan perkembangan penelitian arkeologi di Situs Bongal yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menarik perhatian akademisi nasional maupun internasional.
Berbagai temuan arkeologis, seperti artefak perdagangan Samudra Hindia, menunjukkan bahwa kawasan pesisir barat Sumatra memiliki peran penting dalam jejaring perdagangan dan penyebaran Islam sejak abad-abad awal Hijriah. Temuan-temuan tersebut membuka ruang kajian baru mengenai hubungan antara Nusantara dengan dunia Islam di Timur Tengah, Asia Selatan, dan kawasan Samudra Hindia.

STAIB turut memberikan apresiasi atas kontribusi Museum Fansuri dalam menjaga, mendokumentasikan, dan memperkenalkan warisan sejarah di Situs Bongal kepada masyarakat luas. Kehadiran museum dinilai menjadi sarana edukasi yang sangat penting bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Sejarah Peradaban Islam, untuk memahami sejarah melalui bukti-bukti material yang autentik.
Dalam kesempatan yang juga dihadiri oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Rusmin Tumanggor, Museum Fansuri dan STAIB ke depan juga membahas kemungkinan pelaksanaan program bersama, seperti kuliah tamu, seminar, penelitian kolaboratif, praktik lapangan mahasiswa, hingga pengembangan bahan ajar berbasis temuan arkeologi lokal.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami sejarah Islam di Nusantara secara lebih kritis, ilmiah, dan berbasis data arkeologis. Museum Fansuri sangat mendukung kegiatan akademik institusi pendidikan tinggi di Tapanuli Tengah, seraya memperkuat pemahaman dan wawasan sejarah generasi penerus.
Kunjungan juga menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem akademik yang menghubungkan dunia pendidikan tinggi dengan lembaga pelestarian budaya. Dengan kolaborasi yang erat antara Museum Fansuri Situs Bongal dan STAIB, diharapkan lahir berbagai penelitian dan publikasi ilmiah yang dapat memperkuat posisi Barus dan Bongal sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara.
Museum Fansuri dan STAIB berupaya untuk menjadikan warisan sejarah sebagai sumber pembelajaran, inspirasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi generasi masa depan. Semangat kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan situs sejarah sekaligus memperkuat identitas peradaban Islam di Nusantara yang berakar pada tradisi keilmuan, perdagangan, dan interaksi budaya yang panjang.
Jejaring akademik antara Museum Fansuri dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Barus juga disertai kunjungan staf pengajar STAIB yang juga pengurus Yayasan Matauli Pandan ke Museum Fansuri Situs Bongal.















