Museum Fansuri Situs Bongal menerima kunjungan peneliti arkeologi Islam dari University of Exeter Timothy Insoll pada Jum’at (24/04/2026) di Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah. Selain melihat koleksi artefak dan tata pamer museum, ia juga mengamati secara langsung ke lokasi situs.
Sebelumnya Sultanate Institute telah mempresentasikan hasil penelitian tentang Situs Bongal dalam Indian Ocean World Archaeology Conference tahun 2024 yang dihadiri pula oleh Timothy Insoll. Pertemuan akademik telah berlangsung dua tahun yang lalu, sehingga dalam kunjungannya ia mengatakan sudah mengetahui tentang Situs Bongal.
“Saya pikir ini adalah situs yang luar biasa, temuan data arkeologi dan kawasan situsnya melebihi dugaan saya. Situs Bongal menunjukkan suatu temuan yang sangat penting, dan saya tekesan dengan tata pamer serta penyajian koleksi artefak dalam tampilan di Museum Fansuri Situs Bongal”, tegas Profesor di bidang arkeologi Islam dan Afrika tersebut.

Museum Fansuri Situs Bongal menyajikan hasil penelitiannya bukan hanya menandai capaian akademik saja, melainkan juga edukasi yang bermanfaat bagi publik dan masyarakat luas. Hal ini menjadi praktik pelestarian berkelanjutan sekaligus pemanfaatan warisan budaya yang inklusif.
Museum Fansuri Situs Bongal membuka dialog dan interaksi dua arah dengan pengunjung, serta mendorong keterlibatan komunitas masyarakat setempat dalam disiplin arkeologi dan praktik pelestarian warisan budaya berkelanjutan.
“Apa yang dilakukan oleh Museum Fansuri Situs Bongal merupakan cara bagaimana sejarah dan warisan budaya secara inklusif merepresentasikan identitas masyarakat setempat”, lanjut Insoll.

Situs Bongal masih sangat banyak menyimpan potensi penelitian lanjutan. Ditemukannya Situs Bongal menunjukkan bahwa ada situs-situs yang belum dijelajahi, terutama di kawasan pesisir barat Sumatra, dan menanti penelitian berkelanjutan ke depannya.
“Penelitian lanjutan perlu dilakukan oleh Sultanate Institute, dan saya juga menaruh fokus terhadap situs ini. Bahwa Sultanate Institute telah mengangkat nama Indonesia dalam perbincangan dan diskursus penelitian arkeologi secara global. Terutama dalam kajian arkeologi Islam, pendekatan historical archaeology, dan sejarah masa abad pertengahan”, ucap Insoll.
“Saya sangat mengapresiasi kerja-kerja akademik dan pelestarian berkelanjutan yang dilakukan oleh Sultanate Institute. Suatu kerja luar biasa yang dilakukan oleh para peneliti di dalamnya, yang juga membawa ranah akademik ke khalayak yang lebih luas kepada publik dan masyarakat”, tambah Insoll.















