Temuan data arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, memberikan kontribusi penting bagi pemahaman sejarah maritim Asia Tenggara awal. Situs ini menunjukkan jejak aktivitas perdagangan global sejak abad ke-7 M di pesisir barat Sumatra.
Di antara artefak yang ditemukan, koin-koin berinskripsi Arab diidentifikasi merupakan mata uang Islam yang berasal dari masa Daulah Umawiyah dan Abbasiyah. Bahkan, beberapa koin dengan inskripsi khas Sassaniyah Persia yang digunakan pada masa dakwah Nabi Muhammad hingga masa Khulafaurrasyidin juga ditemukan, yang menunjukkan koneksi kuat Dunia Islam dengan Kepulauan Nusantara melalui pesisir barat Sumatra sejak masa awal Islam.
Kehadiran koin Islam abad ke-7 hingga ke-10 M menjadi salah satu bukti paling signifikan yang menunjukkan interaksi intensif kawasan pantai barat Sumatra dengan jejaring perdagangan dan politik Samudra Hindia.
Selama ini historiografi maritim Indonesia lebih banyak menempatkan pantai timur Sumatra sebagai pusat utama perdagangan internasional pada masa klasik. Namun, temuan di Situs Bongal memperlihatkan bahwa pantai barat Sumatra juga memainkan peranan strategis dalam jalur perdagangan global yang menghubungkan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.
Dalam konteks ini, koin-koin Islam tidak hanya dipahami sebagai alat tukar ekonomi, tetapi juga sebagai simbol interaksi politik, legitimasi kekuasaan, dan pengaruh dakwah dan peradaban Islam melalui jejaring kemaritiman sejak abad ke-7 M.
Keberadaan temuan koin Islam menjadi indikator penting dari intensitas hubungan ekonomi dan diplomatik antara kawasan Sumatra dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Timur Tengah.
Seperti yang dipresentasikan oleh Roni Tabroni dan Nurman Kholis dalam 3rd Spiced Islam International Conference 2025 berjudul “Traces of Power in Coins: The Political Implications of Bongal Numismatic Discoveries of the 7th to 10th Centuries”.
Situs Bongal secara geografis menempati kawasan pesisir Teluk Tapanuli yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Lokasi ini sangat strategis yang memungkinkan Bongal berkembang sebagai pelabuhan transit dan titik distribusi komoditas penting sejak abad ke-7 hingga ke-10 M.
Artefak Koin Islam Daulah Umawiyah dan Abbasiyah Temuan Situs Bongal
Temuan koin Islam di Situs Bongal berasal dari periode Daulah Umawiyah (661–750 M) hingga Daulah Abbasiyah (750–1258 M). Koin-koin ini umumnya memuat inskripsi Arab berupa kalimat tauhid, tahun pencetakan, serta lokasi koin dicetak.
Koin Islam tidak menampilkan figur manusia atau nama khalifah untuk mencerminkan perubahan secara ideologis dalam tradisi moneter Islam awal. Peradaban Islam tidak direpresentasikan melalui figur tertentu, melainkan pada sistem yang berdasarkan ajaran agama Islam.
Kajian numismatik terhadap koin-koin tersebut memberikan informasi penting mengenai jejaring sirkulasi ekonomi dan politik pada masa itu. Inskripsi Arab menunjukkan bahwa koin tersebut bukan sekadar komoditas perdagangan, tetapi juga representasi otoritas kekhalifahan Islam yang memiliki pengaruh luas di wilayah Samudra Hindia.
Hal ini menunjukkan bahwa proses dakwah dan futuhat Islam berarti juga sebuah proses Islamisasi. Penggunaan mata uang Islam dalam jejaring perdagangan menunjukkan adanya pembentukan peradaban melalui sistem ekonomi lintas wilayah yang terintegrasi sejak awal abad pertengahan.
Analisis kandungan logam melalui pendekatan ilmiah juga menunjukkan kualitas tinggi dari material koin. Salah satu sampel koin dari Bongal dengan metode XRF menunjukkan dominasi unsur perak dalam material pembuatnya.
Hal ini mengindikasikan fungsi ekonomi yang berlangsung, koin digunakan sebagai mata uang atau alat tukar dengan nilai intrinsik yang terkandung di dalamnya. Keberadaan koin perak Islam di pantai barat Sumatra memperlihatkan bahwa kawasan pesisir barat Sumatra tidak terisolasi, melainkan wilayah aktif dalam sirkulasi ekonomi global.
Pengaruh Otoritas dan Sistem Ekonomi Dunia Islam
Konteks ekonomi tidak bisa dipisahkan dari konteks politik yang menyertainya. Koin-koin Islam dari Bongal mencerminkan pengaruh otoritas pada abad ke-7 hingga ke-10 M di Samudra Hindia. Pada masa yang sama kawasan Nusantara berada dalam pengaruh kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya maupun Mataram Kuno.
Namun masuknya koin Umawiyah dan Abbasiyah ke Bongal memperlihatkan berlangsungnya interaksi antara dunia Islam dengan Kepulauan Nusantara di Sumatra. Koin Islam menandai suatu transfer sistem dan pengetahuan yang ditunjukkan dengan aktivitas perdagangan dan hubungan antarpedagang mancanegara.
Koin sebagai simbol legitimasi ekonomi turut membawa pengaruh budaya dan ideologi. Sistem ekonomi dan keuangan Islam mentransfer pengetahuan bagaimana jejaring perdagangan dilangsungkan secara adil. Secara bersamaan pengetahuan tentang aktivitas pertukaran tersebut juga menjadi medium penyebaran identitas dan pengaruh politik.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kawasan pesisir Sumatra tidak hanya menjadi penerima pasif perdagangan global, tetapi juga bagian aktif dalam pembentukan lanskap politik maritim Asia Tenggara awal maupun di kawasan Samudra Hindia
Analisis numismatik terhadap inskripsi, ikonografi, dan konteks sebaran koin membuka wawasan tentang dinamika kekuasaan, aliansi, serta kemungkinan pengaruh hegemonik di Sumatra pada masa kejayaan Sriwijaya dan Mataram Kuno.
Perbandingan dengan temuan serupa di India Selatan dan Pakistan memperkuat pemahaman bahwa Bongal merupakan bagian dari jejaring transregional yang memfasilitasi pertukaran barang, ide, dan pengaruh politik lintas batas geografis. Temuan ini menyoroti pentingnya Bongal sebagai simpul strategis dalam membentuk lanskap politik dan ekonomi Asia Tenggara awal.
Keberadaan koin Islam memperlihatkan bahwa interaksi antara Asia Tenggara dan Dunia Islam telah berlangsung lebih awal daripada yang selama ini diketahui. Hal ini sekaligus membuka pandangan terhadap historiografi lama yang cenderung menempatkan proses Islamisasi Nusantara baru berkembang secara signifikan pada abad ke-13 M.
Temuan koin Islam Dinasti Umayyah dan Abbasiyah di Situs Bongal merupakan bukti penting interaksi pantai barat Sumatra dengan jejaring perdagangan dan politik Samudra Hindia pada abad ke-7 hingga ke-10 M.
Melalui pendekatan numismatik, koin-koin tersebut membuka pemahaman baru mengenai dinamika ekonomi, pengaruh politik, dan interaksi budaya lintas kawasan pada masa awal sejarah maritim Asia Tenggara dan Samudra Hindia masa abad pertengahan.
Situs Bongal menunjukkan bahwa pantai barat Sumatra memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional dan menjadi bagian dari jejaring transregional yang menghubungkan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.
Temuan ini tidak hanya memperkaya kajian arkeologi maritim Indonesia, tetapi juga mendorong reinterpretasi historiografi tentang peran Sumatra dalam pembentukan peradaban maritim dunia awal, serta membuka pandangan tentang historiografi Islam di Indonesia.
Dengan demikian, Bongal dapat dipahami sebagai salah satu simpul penting dalam lanskap perdagangan global awal yang memperlihatkan bagaimana kekuatan ekonomi, politik, dan budaya saling terhubung melalui jejaring Samudra Hindia, yang pada masa itu ditandai dengan menguatnya pengaruh otoritas Dunia Islam.
















