No Result
View All Result
Sultanate Institute
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
No Result
View All Result
Sultanate Institute
No Result
View All Result

Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

Editor by Editor
12 Februari 2026
in Islamic Civilization
0
Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

Peta Deskripsi Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam Teks-Teks Arab. Sumber: G.R.Tibbetts, A Study of Arabic Texts Containing Material on South-East Asia.

Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sejak pertengahan abad ke-8 M, para pedagang Muslim dari kawasan Teluk Persia terutama di pelabuhan-pelabuhan Basrah, Siraf, dan Sohar, menjadi pelopor pelayaran langsung jarak jauh ke Asia Timur.

Berkembangnya jejaring perdagangan maritim Samudra Hindia yang menghubungkan Baghdad, Basrah, Teluk Persia, India, Asia Tenggara, hingga Tiongkok pada masa Dinasti Tang merupakan pengaruh peradaban Islam yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk peradaban Islam sejak abad ke-7 M. Hal ini seperti yang ditulis oleh Timothy Power dalam artikel berjudul “The Abbasid Indian Ocean Trade”.

Basrah tumbuh sebagai pusat ekonomi utama dengan potensi sumber daya agraris yang letaknya strategis di jalur sungai Eufrat dan Tigris. Pendirian Baghdad pada 762 M sebagai ibu kota masa Daulah Abbasiyah secara strategis mengoptimalkan arus perdagangan global melalui Teluk Persia. Permintaan tinggi akan barang dan komoditas mendorong ekspansi perdagangan ke arah timur, khususnya ke India dan Tiongkok.

Jejaring pelayaran dan perniagaan maritim membawa serta pertukaran komoditas di mana para pelayar muslim berperan besar sebagai country trade, yang memperdagangkan barang dari wilayah lain.

Bukti-bukti arkeologis jejak perdagangan tersebut ditemukan meliputi temuan keramik Tiongkok di Siraf dan bangkai kapal Belitung di perairan Sumatra, yang menunjukkan skala perdagangan yang sangat besar dan terorganisasi dengan baik.

Basrah dan Siraf menandai era majunya aktivitas pelayaran dan perdagangan yang menandai pula perkembangan pengetahuan dan teknologi selama masa Daulah Abbasiyah. Setelah bertahun-tahun kejayaan tersebut, pada tahun 977 M Siraf mengalami bencana gempa besar yang mengakibatkan pelabuhan ini tidak aktif lagi.

Jejaring pelayaran dan perdagangan memberi dampak budaya khususnya dari pengaruh keramik Tiongkok terhadap perkembangan teknologi dan estetika keramik Islam.

Peran Strategis Asia Tenggara

Asia Tenggara termasuk di antaranya Sumatra, memegang peran strategis dalam jejaring perdagangan Samudra Hindia masa Daulah Abbasiyah. Asia Tenggara berperan menyediakan rute-rute singgah pelayaran dari Teluk Persia menuju Tiongkok sekaligus sebagai lokasi berlangsungnya pembentukan budaya.

Peran strategis tersebut menjadikan kawasan ini sebagai titik persinggahan penting dalam perdagangan jarak jauh. Temuan arkeologis di sepanjang pesisir timur maupun barat Sumatra menjadi bukti kuat keterlibatan Asia Tenggara dalam sistem perdagangan maritim Islam awal.

Dalam perkembangan selanjutnya, pedagang Muslim tidak selalu berlayar langsung ke pelabuhan Tiongkok, melainkan berhenti di rute pesisir barat Sumatra kemudian Selat Malaka pada abad-abad selanjutnya, sebagai simpul pertemuan kapal-kapal dari dunia Islam dan Asia Timur.

ADVERTISEMENT

Hal ini menegaskan posisi Sumatra sebagai penghubung vital antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan dalam ekonomi maritim abad pertengahan awal.

Timothy Power dalam artikelnya memberikan kerangka penting untuk memahami posisi pantai barat Sumatra dalam jaringan perdagangan maritim Samudra Hindia pada masa Daulah Abbasiyah. Dari perspektif arkeologi-sejarah, jejaring ini ditandai oleh pergerakan komoditas, teknologi pelayaran, dan budaya material maupun non material yang terhubung melalui jalur laut antara Teluk Persia, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.

Sumatra muncul bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari jalur pelayaran utama yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan.

Dalam konteks pantai barat Sumatra yang ditunjukkan oleh keberadaan Situs Bongal dan Barus, keberadaan jalur pelayaran ini relevan dengan temuan artefak seperti keramik, kaca, dan manik-manik yang merefleksikan keterlibatan wilayah tersebut dalam jaringan country trade, yaitu perdagangan barang lintas kawasan yang dimotori oleh para pedagang Muslim.

Timothy Power juga menekankan peran pelabuhan-pelabuhan transit di Asia Tenggara ketika pelayaran langsung ke Tiongkok mulai berkurang. Pada abad-abad selanjutnya Selat Malaka berfungsi sebagai simpul pertemuan kapal dari dunia Islam dan Asia Timur, namun pantai barat Sumatra tetap penting sebagai rute dan kawasan persinggahan awal sebelum memasuki jalur Selat.

Dalam perspektif lanskap budaya maritim, hal ini membuka ruang interpretasi bahwa situs-situs seperti Bongal dan Barus berperan sebagai bagian dari sistem pelabuhan dan pusat budaya maritim yang mendukung perdagangan lintas Samudra Hindia.

Pantai barat Sumatra sejak abad ke-7 M telah terintegrasi dalam ekonomi maritim Islam awal. Integrasi tersebut tidak hanya terlihat dari temuan artefak yang berasal dari kawasan mancanegara, tetapi juga dari pembentukan budaya oleh masyarakat pendukung yang melakukan adaptasi teknologi, pengetahuan pelayaran, serta pembentukan komunitas pesisir yang berorientasi maritim, jauh sebelum dominasi Selat Malaka pada periode selanjutnya.

Previous Post

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

Editor

Editor

Related Posts

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina
Islamic Civilization

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

17 Januari 2026
Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M
Islamic Civilization

Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M

2 Januari 2026
Revolusi Ekonomi Islam: Dari Ketimpangan Pasar Menuju Fondasi Moneter Global
Islamic Civilization

Revolusi Ekonomi Islam: Dari Ketimpangan Pasar Menuju Fondasi Moneter Global

18 Desember 2025
Artefak Kaca Situs Bongal: Bukti Interaksi Dunia Islam dengan Kepulauan Nusantara Sejak Abad ke-8 M
Islamic Civilization

Artefak Kaca Situs Bongal: Bukti Interaksi Dunia Islam dengan Kepulauan Nusantara Sejak Abad ke-8 M

25 November 2025
Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim di Situs Bongal
Islamic Civilization

Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Maritim di Situs Bongal

12 November 2025
Abd al-Latif al-Baghdadi Ilmuwan Muslim Abad 12 M, Pelopor Observasi Bioarkeologi Modern
Islamic Civilization

Abd al-Latif al-Baghdadi Ilmuwan Muslim Abad 12 M, Pelopor Observasi Bioarkeologi Modern

4 November 2025

POPULAR

Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

Pesisir Barat Sumatra dalam Sejarah Perdagangan Samudra Hindia Abad 7-10 M

12 Februari 2026
Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

Peran Artefak Kaca dalam Rekonstruksi Perdagangan Maritim Sumatra Utara: Studi dari Situs Bongal dan Bulu Cina

17 Januari 2026
Kunjungan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB): Dari Historiografi hingga Artefak sebagai Bukti Ketinggian Peradaban Islam

Kunjungan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB): Dari Historiografi hingga Artefak sebagai Bukti Ketinggian Peradaban Islam

11 Januari 2026
Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

Sultanate Institute Menginisiasi Kolaborasi Riset Sejarah Peradaban Islam

3 Januari 2026
Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M

Jejaring Basrah-Tiongkok: Perdagangan Maritim Global Abad 7 M

2 Januari 2026
Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

Kunjungan Ust. Asep Sobari: Persentuhan Islam dan Nusantara Jauh Lebih Awal dan Sangat Intensif

31 Desember 2025
Revolusi Ekonomi Islam: Dari Ketimpangan Pasar Menuju Fondasi Moneter Global

Revolusi Ekonomi Islam: Dari Ketimpangan Pasar Menuju Fondasi Moneter Global

18 Desember 2025

Konservasi Berkelanjutan Situs Bongal: Sultanate Institute Lakukan Pengembangan Industri Aromatika di Indonesia

10 Desember 2025
Kunjungan Jurnalis Pizaro Gozali Idrus: Mempelajari Geopolitik dan Maritim Global dari Situs Bongal

Kunjungan Jurnalis Pizaro Gozali Idrus: Mempelajari Geopolitik dan Maritim Global dari Situs Bongal

4 Desember 2025
Founder Pusat Dokumentasi Tamaddun: Penelitian Sultanate Institute adalah Kerja-Kerja Besar untuk Peradaban Islam

Founder Pusat Dokumentasi Tamaddun: Penelitian Sultanate Institute adalah Kerja-Kerja Besar untuk Peradaban Islam

30 November 2025
ADVERTISEMENT

Sultanate Institute. All Right Reserved

  • Profile
  • About Us
  • Contact Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan