Sejak pertengahan abad ke-8 M, para pedagang Muslim dari kawasan Teluk Persia terutama di pelabuhan-pelabuhan Basrah, Siraf, dan Sohar, menjadi pelopor pelayaran langsung jarak jauh ke Asia Timur.
Berkembangnya jejaring perdagangan maritim Samudra Hindia yang menghubungkan Baghdad, Basrah, Teluk Persia, India, Asia Tenggara, hingga Tiongkok pada masa Dinasti Tang merupakan pengaruh peradaban Islam yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk peradaban Islam sejak abad ke-7 M. Hal ini seperti yang ditulis oleh Timothy Power dalam artikel berjudul “The Abbasid Indian Ocean Trade”.
Basrah tumbuh sebagai pusat ekonomi utama dengan potensi sumber daya agraris yang letaknya strategis di jalur sungai Eufrat dan Tigris. Pendirian Baghdad pada 762 M sebagai ibu kota masa Daulah Abbasiyah secara strategis mengoptimalkan arus perdagangan global melalui Teluk Persia. Permintaan tinggi akan barang dan komoditas mendorong ekspansi perdagangan ke arah timur, khususnya ke India dan Tiongkok.
Jejaring pelayaran dan perniagaan maritim membawa serta pertukaran komoditas di mana para pelayar muslim berperan besar sebagai country trade, yang memperdagangkan barang dari wilayah lain.
Bukti-bukti arkeologis jejak perdagangan tersebut ditemukan meliputi temuan keramik Tiongkok di Siraf dan bangkai kapal Belitung di perairan Sumatra, yang menunjukkan skala perdagangan yang sangat besar dan terorganisasi dengan baik.
Basrah dan Siraf menandai era majunya aktivitas pelayaran dan perdagangan yang menandai pula perkembangan pengetahuan dan teknologi selama masa Daulah Abbasiyah. Setelah bertahun-tahun kejayaan tersebut, pada tahun 977 M Siraf mengalami bencana gempa besar yang mengakibatkan pelabuhan ini tidak aktif lagi.
Jejaring pelayaran dan perdagangan memberi dampak budaya khususnya dari pengaruh keramik Tiongkok terhadap perkembangan teknologi dan estetika keramik Islam.
Peran Strategis Asia Tenggara
Asia Tenggara termasuk di antaranya Sumatra, memegang peran strategis dalam jejaring perdagangan Samudra Hindia masa Daulah Abbasiyah. Asia Tenggara berperan menyediakan rute-rute singgah pelayaran dari Teluk Persia menuju Tiongkok sekaligus sebagai lokasi berlangsungnya pembentukan budaya.
Peran strategis tersebut menjadikan kawasan ini sebagai titik persinggahan penting dalam perdagangan jarak jauh. Temuan arkeologis di sepanjang pesisir timur maupun barat Sumatra menjadi bukti kuat keterlibatan Asia Tenggara dalam sistem perdagangan maritim Islam awal.
Dalam perkembangan selanjutnya, pedagang Muslim tidak selalu berlayar langsung ke pelabuhan Tiongkok, melainkan berhenti di rute pesisir barat Sumatra kemudian Selat Malaka pada abad-abad selanjutnya, sebagai simpul pertemuan kapal-kapal dari dunia Islam dan Asia Timur.
Hal ini menegaskan posisi Sumatra sebagai penghubung vital antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan dalam ekonomi maritim abad pertengahan awal.
Timothy Power dalam artikelnya memberikan kerangka penting untuk memahami posisi pantai barat Sumatra dalam jaringan perdagangan maritim Samudra Hindia pada masa Daulah Abbasiyah. Dari perspektif arkeologi-sejarah, jejaring ini ditandai oleh pergerakan komoditas, teknologi pelayaran, dan budaya material maupun non material yang terhubung melalui jalur laut antara Teluk Persia, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.
Sumatra muncul bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari jalur pelayaran utama yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan.
Dalam konteks pantai barat Sumatra yang ditunjukkan oleh keberadaan Situs Bongal dan Barus, keberadaan jalur pelayaran ini relevan dengan temuan artefak seperti keramik, kaca, dan manik-manik yang merefleksikan keterlibatan wilayah tersebut dalam jaringan country trade, yaitu perdagangan barang lintas kawasan yang dimotori oleh para pedagang Muslim.
Timothy Power juga menekankan peran pelabuhan-pelabuhan transit di Asia Tenggara ketika pelayaran langsung ke Tiongkok mulai berkurang. Pada abad-abad selanjutnya Selat Malaka berfungsi sebagai simpul pertemuan kapal dari dunia Islam dan Asia Timur, namun pantai barat Sumatra tetap penting sebagai rute dan kawasan persinggahan awal sebelum memasuki jalur Selat.
Dalam perspektif lanskap budaya maritim, hal ini membuka ruang interpretasi bahwa situs-situs seperti Bongal dan Barus berperan sebagai bagian dari sistem pelabuhan dan pusat budaya maritim yang mendukung perdagangan lintas Samudra Hindia.
Pantai barat Sumatra sejak abad ke-7 M telah terintegrasi dalam ekonomi maritim Islam awal. Integrasi tersebut tidak hanya terlihat dari temuan artefak yang berasal dari kawasan mancanegara, tetapi juga dari pembentukan budaya oleh masyarakat pendukung yang melakukan adaptasi teknologi, pengetahuan pelayaran, serta pembentukan komunitas pesisir yang berorientasi maritim, jauh sebelum dominasi Selat Malaka pada periode selanjutnya.















