Museum Fansuri Situs Bongal mendapat kunjungan dari ustadz Bachtiar Nasir, Lc., MM. pada Rabu (22/04/2026). Kunjungan ini mempelajari secara mendalam warisan sejarah dan peradaban Islam Indonesia sejak abad ke-7 M.
Koleksi artefak Museum Fansuri Situs Bongal mencerminkan refleksi sejarah interaksi awal dakwah Islam di Indonesia melalui kawasan pesisir barat Sumatra. Penelitian Situs Bongal juga menunjukkan temuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Apa yang dilakukan oleh ilmuwan, peneliti, ataupun arkeolog kita merupakan langkah besar yang patut disyukuri. Wawasan sejarah dan peradaban Islam di Situs Bongal semakin membuka pengetahuan bahwa Islam Indonesia tumbuh seiring dengan dakwah sejak abad ke-7 M.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan, “Kunjungan ini merupakan bentuk kesyukuran secara keilmuan dan secara fakta bahwa di sini ditemukan awal mula masuknya Islam dengan bukti-bukti artefak, dan juga kita syukuri ada ilmuwan-ilmuwan, peneliti kita, arkeolog kita yang mau bersusah payah”.

Situs Bongal mengingatkan, bahwa pemahaman tentang Indonesia juga merupakan pemahaman tentang peradaban yang dibangun atas dasar dakwah Islam. Temuan-temuan artefak yang dikelola oleh Museum Fansuri Situs Bongal menegaskan hal tersebut.
Ustadz Bahctiar Nasir mengajak masyarakat untuk belajar melalui Museum Fansuri Situs Bongal. Mengajak untuk menelusuri kembali jejak Islam Indonesia, di mana jejak tersebut dimulai dari pesisir barat Sumatra.
Beliau menyampaikan, “Ketika kita ingin membangun kembali Indonesia dari keemasan Islamnya, ya jangan lupa alur yang sudah dibuatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala lewat alur alamnya”.
“Nah temuan-temuan ini saya kira membuat kita belajar, membuat kita puas, yakin bahwa dengan semua temuan ini kalau ingin menelusuri kembali jejak Islam Indonesia, ya mulailah dari sini”.
Apa yang dihasilkan di Situs Bongal dan tersimpan di Museum Fansuri harus dibesarkan dan dijaga bersama. Museum ini membangun kesadaran akan peradaban Islam Indonesia dan bermanfaat bagi pembelajaran masyarakat dan publik luas.
Beliau menutup kunjungan dengan memberikan apresiasi terhadap Museum Fansuri Situs Bongal. Bahwa “Museum ini harus dibesarkan, temuan-temuan seperti ini harus dijaga, dan masyarakat harus mendukung museum ini, Museum Fansuri Situs Bongal”.















