Tradisi pembuatan perahu di Indonesia sangat kaya dan beragam, berkembang selama berabad-abad sebagai bagian dari budaya maritim Nusantara. Tradisi tersebut merupakan teknologi pembuatan transportasi air khas Nusantara yang tinggalannya tersebar dalam sejumlah situs warisan budaya.
Sebagai negara kepulauan, tradisi kemaritiman di Indonesia memiliki jejak sejarah yang panjang. Masyarakat Nusantara mengembangkan berbagai jenis teknologi transportasi air yang memungkinkan untuk menjelajahi lautan, melangsungkan pertukaran dagang antar pulau, serta melakukan pelayaran jarak jauh.
Perahu tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir. Teknik pembuatan perahu diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan praktik langsung di kalangan komunitas pengrajin.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, tradisi tersebut menghadapi berbagai tantangan. Tradisi dan pengetahuan maritim ini semakin langka, terbatas, bahkan berada dalam kondisi terancam punah.
Chiara Zazzaro melalui presentasinya dalam 3rd Spiced Islam International Conference berjudul “The Indonesian Boatbuilding Endangered Heritage Project” melakukan upaya pelestarian pengetahuan dan tradisi pembuatan perahu di Indonesia dalam rangka menjaga keberlanjutan warisan budaya maritim Indonesia.
Penelitian tersebut dilakukan dengan mendokumentasikan tradisi maritim yang kaya dan beragam di seluruh kepulauan Indonesia dengan melibatkan kajian multidisiplin arkeologi, ikonografi, dan sejarah, serta wawancara etnografi, dokumentasi bahasa, dan analisis koleksi museum.
Penelitian dan pelestarian berkelanjutan tradisi maritim Nusantara tersebut dilakukan dengan kolaborasi antara akademisi Indonesia dan Italia. Melibatkan berbagai institusi, termasuk universitas dan lembaga penelitian yang mempelajari arkeologi maritim dan budaya maritim Asia Tenggara.
Teknologi pembuatan perahu yang eksis di sejumlah komunitas masyarakat didokumentasikan kemudian dikaji dalam kerangka sejarah kemaritiman Nusantara. Selanjutnya hasil analisis menggambarkan proses pembuatan perahu yang direkonstruksi untuk memberi suasana eksperimental yang bertujuan mendorong kesadaran publik dan masyarakat.
Selain itu, gambaran akan kesinambungan sejarah juga penting ditunjukkan. Oleh karena itu, penelitian juga menghubungkan tradisi pembuatan perahu masa kini dengan bukti arkeologi yang menunjukkan sejarah panjang teknologi pelayaran di Nusantara.
Rekonstruksi perahu kuno berdasarkan bukti arkeologis menunjukkan bahwa teknologi pelayaran Nusantara memiliki kemampuan luar biasa. Rekonstruksi juga menunjukkan bahwa tipe perahu Asia Tenggara memiliki kemampuan pelayaran jarak jauh. Hal ini memberikan wawasan mendalam tentang peran masyarakat maritim Indonesia dalam jejaring perdagangan global pada masa lalu.
Data-data yang dikumpulkan terdiri dari tinggalan arkeologi bangkai kapal yang ditemukan di sejumlah situs seperti di Punjulharjo (Rembang, Jawa Tengah) dan Lagoi (Pulau Bintan), yang mewakili gambaran teknik pembuatan kapal khas Nusantara/Asia Tenggara beserta praktik pelayarannya.
Kemudian data etnografi dilakukan di Tana Beru (Sulawesi Selatan) dan Lamalera (Lembata, Nusa Tenggara Timur) sebagai dua lokasi kunci di mana tradisi pembuatan kapal kayu masih aktif dalam aktivitas sehari-hari bahkan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam rangka memperkaya data tinggalan bangkai kapal, model perahu, alat, dan berbagai objek lain yang terkait dengan aktivitas pembuatan perahu juga dicatat, didokumentasikan, dan dalam beberapa kasus dikumpulkan untuk memastikan pelestariannya dan memfasilitasi penelitian lebih lanjut.
Penelitian Situs Bongal juga menghasilkan temuan fragmen kayu bangkai kapal yang menunjukkan tradisi pembuatan khas Nusantara/Asia Tenggara. Analisis terhadap kayu kapal Situs Bongal menunjukkan usia yang sama dengan bangkai kapal di Situs Punjulharjo, Rembang, yaitu berasal dari abad ke-7 M. Dalam konteks kemaritiman di pesisir barat Sumatra, temuan bangkai kapal Situs Bongal merupakan temuan pertama sekaligus temuan tertua.
Pengetahuan dan tradisi pembuatan perahu merupakan bagian dari warisan budaya maritim paling penting di Indonesia. Teknologi perahu yang berkembang selama berabad-abad menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam beradaptasi dengan lingkungan perairan dan membangun jejaring pelayaran yang luas.
Namun tradisi tersebut kini menghadapi berbagai ancaman akibat modernisasi dan perubahan sosial. Upaya pelestarian melalui studi dokumentasi, analisis, dan rekonstruksi bertujuan tidak hanya mengungkap sejarah teknologi perahu Indonesia, tetapi juga memastikan keberlanjutan warisan budaya maritim Nusantara bagi generasi mendatang, serta menghidupkan kembali minat dan memastikan tranfer pengetahuan dan tradisinya di masa depan.















