Riset arkeologi Islam di Bahrain menemukan jejak proses Islamisasi seiring dakwah dan futuhat Islam di Jazirah Arab sejak masa awal. Bahrain merupakan salah satu negara Arab yang menempati wilayah kepulauan di pesisir perairan Teluk Persia.
Hal ini dijelaskan oleh Timothy Insoll dalam pidatonya di RZS-CASIS UTM 20 April 2026 bertema “The Archaeology of Islam: Three Case Studies from Bahrain, the Hijra Route in Saudi Arabia, and Eastern Ethiopia”.
Masyarakat Bahrain merupakan masyarakat yang dekat dengan aktivitas perdagangan maritim. Mereka tumbuh dengan sumber daya utama dan komoditas alam yang berkualitas yaitu mutiara. Bahrain salah satu lokasi penting penghasil mutiara dalam jejaring perdagangan maritim global.
Daya tarik komoditas tersebut menjadikan Bahrain memiliki interaksi perdagangan dengan kawasan Asia Selatan. Beberapa teks/dokumen sejarah maupun laporan perjalanan Arab abad 9-12 M mencatat aktivitas pedagangan mutiara dan bagaimana masyarakat memanennya.
Sejumlah data arkeologi ditemukan di Bahrain yang berlokasi di beberapa tempat. Salah satunya adalah bukti-bukti yang ditemukan di Bilad Al-Qadim, yaitu lokasi yang diduga merupakan sebuah permukiman dengan ditemukannya inskripsi berbentuk tulisan “Basmalah”.
Beragam jenis artefak ditemukan di Bilad Al-Qadim, di antaranya artefak kaca yang berasal dari Raqqa (Syria) dan Iran. Kemudian ditemukan pula beberapa ragam jenis manik-manik, dan sisa cangkang serta mutiara.
Artefak lain yang ditemukan ialah mata uang Islam, alat tukar dalam sistem ekonomi dan aktivitas perdagangan. Artefak tersebut ialah koin dinar berinskripsi yang diidentifikasi berasal dari masa Daulah Abbasiyah.
Beberapa sisa fauna juga ditemukan berupa sisa tulang sapi, domba, kambing, dan unta. Temuan artefak-artefak yang berkorelasi dengan aktivitas perdagangan menunjukkan Bahrain merupakan lokasi yang terhubung dengan jejaring perdagangan global melintasi perairan Samudra Hindia.
Analisis lingkungan dilakukan melalui identifikasi terhadap bentang alam di sekitar situs. Ditemukannya cangkang kecil menunjukkan bahwa lokasi Bilad Al-Qadim memiliki lingkungan yang lembap, payau, dan vegetasi yang lebat.
Temuan data arkeologi lain yang penting dalam menunjukkan warisan budaya Islam adalah nisan makam masyarakat di Bahrain. Terutama ditunjukkan melalui inskripsi yang tertulis dalam nisan dalam komplek makam.
Nisan makam berinskripsi ini ditemukan dalam jumlah yang banyak, menunjukkan gambaran terhadap orang yang wafat. Tokoh-tokoh yang tidak terekam dalam dokumen historis dapat diidentifikasi melalui inskripsi nisan makam tersebut.
















