Temuan kayu kapal di Situs Bongal menambah pengetahuan tentang sebaran teknologi pembuatan kapal tambuku-terikat di Asia Tenggara. Penelitian terakhir menyatakan jumlah sebaran situs temuannya mencapai 30 situs, namun saat ini perlu diperbarui, karena semakin banyak situs yang telah diidentifikasi seperti Situs Bongal. Selain itu, masih banyak pula yang terlewatkan, sebab beberapa di antaranya dipublikasikan tidak dalam bahasa Inggris.
Fragmen kayu sisa perahu yang ditemukan dalam keadaan terpisah-pisah di Situs Bongal sebagian besar terdiri dari papan lambung, sedangkan sisanya terdiri dari ujung sayap, bagian haluan/buritan, kayu berukir/berinskripsi, serta kemudi.
Hasil analisis pertanggalan kronometrik melalui metode AMS menunjukkan sisa perahu temuan Situs Bongal berasal dari abad ke-7 M hingga abad ke-8 M. Sementara analisis pertanggalan bagian kemudi adalah 656-687 M, yang menandai temuan kemudi tertua di Asia Tenggara.
Penjelasan mengenai temuan kayu kapal di Situs Bongal dan tradisi pembuatan kapal tambuku-terikat (lashed-lug) ini dimuat dalam “Lashed-Lug Boats from the Bongal Site: New Evidence for Early Maritime Networks on the West Coast of Sumatra”, International Journal of Nautical Archaeology (2026).
Bukan hanya menambah kekayaan khazanah temuan, lebih dari itu Situs Bongal memperluas peta sebaran geografis. Selama beberapa dekade, hampir semua situs berada di lokasi sekitar perairan kepulauan Asia Tenggara, sementara Situs Bongal terletak di tepi luar menghadap ke perairan Samudra Hindia, yaitu di pesisir barat Sumatra.
Sayangnya karena konteks temuan fragmen kayu kapal di Situs Bongal hilang karena sudah dipindahkan dari lokasi aslinya, sulit untuk menentukan apakah temuan kayu kapal tambuku-terikat tersebut terlibat secara langsung membawa benda-benda (artefak lain yang berasal dari mancanegara) dari luar ke Sumatra.
Meskipun begitu, analisis terhadap kayu kapal Situs Bongal penting untuk dilakukan karena menunjukkan variasi ukuran, desain, dan jenis kayunya, sehingga mengindikasikan kayu kapal yang terfragmentasi tersebut berasal dari kapal yang berbeda-beda. Hal ini berdasarkan referensi di situs lain di Asia Tenggara yaitu Situs Butuan di Filipina, di mana terdapat lebih dari satu perahu ditemukan secara terpisah.
Temuan data arkeologi di Situs Bongal baik hasil ekskavasi maupun temuan masyarakat setempat, secara konsisten ditemukan dalam matriks yang sama. Hal ini menunjukkan secara kuat lapisan budaya yang sezaman di antara temuan-temuan tersebut, yaitu suatu lokasi permukiman pesisir atau muara sungai masa lampau, abad ke-7 M hingga abad ke-10 M.
Berdasarkan keragaman dan skala temuan juga menunjukkan bahwa Situs Bongal merupakan pusat aktivitas pertukaran dengan akses sungai-pesisir yang penting sebelum Barus (Lobu Tua) berkembang sebagai pusat regional utama di sekitarnya.
Hingga saat ini, data arkeologi mengenai perahu pra-modern yang menunjukkan teknologi pembuatan tambuku-terikat, yaitu menggunakan papan dan diikat dengan tali, merupakan tradisi masyarakat Asia Tenggara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Namun tidak hanya berasal dari masa yang sangat lampau, berdasarkan temuan tahun 1980an, tradisi tersebut ternyata masih dipertahankan oleh masyarakat di wilayah Indonesia bagian timur. Perkembangan disiplin arkeologi di antaranya arkeologi bawah air disertai ilmu bantu lainnya (kajian multidisiplin) telah mengidentifikasi kesamaan tradisi tambuku-terikat (lashed-lug) di Asia Tenggara.
Tradisi tersebut ialah metode pembuatan perahu dengan menggunakan sebuah papan lunas yang berfungsi sebagai tulang punggung, kemudian papan lambung disambung tepi ke tepi dengan pasak dan/atau ikatan tali, ujung sayap di haluan dan buritan, serta rangka-rangka yang diikat ke tonjolan yang menonjol dari papan-papan tersebut.
Di antara semua situs penemuan kapal dengan tradisi tambuku-terikat hingga saat ini, Indonesia menyumbang lebih dari setengahnya. Situs-situs tersebut terletak di bagian barat kepulauan, dengan hampir semuanya berada di Sumatra serta pulau-pulau dan perairan di sekitarnya. Hanya beberapa saja yang berada di pantai utara Jawa dan di Laut Jawa, di antaranya perahu Punjulharjo abad ke-7 M dan bangkai kapal Cirebon abad ke-10 M.
Sejauh ini, bukti arkeologis tertua dan terbaru kapal tambuku-terikat di Indonesia sama-sama ditemukan di sektor Margomulyo di situs Air Sugihan, Sumatra Selatan. Temuan tertua berasal dari abad ke-1 M hingga abad ke-3 M, sedangkan yang terbaru berasal dari abad ke-12 M hingga abad ke-14 M.
















