Studi arkeologi Islam merupakan salah satu kajian dalam disiplin arkeologi yang mengemuka di antara kalangan arkeolog, peneliti, dan akademisi dunia. Studi ini menjadi fokus tersendiri dalam memahami proses pembentukan peradaban seiring dengan proses dakwah dan Islamisasi yang mencakup lintas wilayah secara global.
Studi arkeologi Islam telah banyak dikembangkan oleh sejumlah lembaga peneliti maupun dunia kampus. Timothy Insoll salah satu arkeolog yang menaruh perhatian terhadap studi arkeologi Islam melalui karya-karya penelitiannya.
Dalam ceramah dan dialog akademik di Raja Zarith Sofiah Centre of Advanced Studies on Islam, Sciences, and Civilization (RZS-CASIS) UTM, ia berbicara tentang arkeologi Islam dengan tema “The Archaeology of Islam: Three Case Studies from Bahrain, the Hijra Route in Saudi Arabia, and Eastern Ethiopia”.
Pada acara tersebut Insoll menjelaskan, melalui penelitiannya dalam studi arkeologi Islam, ia melakukan riset yang berfokus mendalami dimensi arkeologi dari pengetahuan dan tradisi yang bersumber dari ajaran agama Islam dan keberadaan umat Islam sendiri.
Penelitian-penelitian tersebut sejauh ini mencakup wilayah di kawasan Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Eropa Timur. Di antaranya Bahrain Ethiopia, Arab Saudi, Burkina Faso, Eritrea, Ghana, India, Mali, Turki, Uganda, dan Zanzibar.
Temuan data arkeologi yang merupakan tinggalan kebudayaan material mencakup artefak-artefak dalam konteks Dunia Islam. Beberapa di antara artefak Dunia Islam adalah kemarik, koin mata uang, barang berbahan kaca, logam, manik-manik, dan macam-macam ekofak.
Studi Arkeologi Islam
Arkeologi Islam mencakup keseluruhan warisan budaya yang dihasilkan dari praktik dakwah Islam di seluruh dunia, tidak terbatas hanya menunjuk satu wilayah atau kawasan secara geografis saja.
Secara temporal, Timothy Insoll membatasi periodisasi arkeologi Islam sejak abad ke-7 M, tepatnya tahun 610 M ditandai dengan turunnya agama Islam di mana Nabi Muhammad pertama kali mendapat wahyu, hingga abad ke-20 tepatnya tahun 1922 yaitu runtuhnya kepemimpinan Kesultanan Turki Utsmani.
Namun pembatasan periode arkeologi Islam ini seharusnya dapat lebih mengakomodir periodisasi setelahnya, meskipun perlu melihat kompleksitas pembentukan negara-bangsa sepanjang abad ke-20.
Menurut Insoll, studi arkeologi Islam bukanlah bersifat keagamaan, yaitu suatu upaya untuk mencari bukti atas teks Al-Qur’an. Hal seperti ini sangat jarang dilakukan, dan hanya terjadi di kalangan pinggiran.
Studi arkeologi Islam bertujuan untuk meneliti aspek-aspek keIslaman melalui bukti-bukti arkeologi. Arkeologi Islam melacak sejumlah kawasan yang jarang dibicarakan dalam sumber-sumber sejarah, kemudian menelusuri secara mendalam aspek-aspek kehidupan masa lampau melalui bentuk-bentuk tinggalan pengetahuan dan teknologi.
Studi arkeologi Islam juga mendalami warisan budaya Dunia Islam dengan merekonstruksi pola dakwah dan Islamisasi, serta bagaimana bentuk-bentuk praktik sosial-kultural umat Islam dalam konteks lokal, regional, maupun global.
Dalam melakukan tujuannya itu, studi arkeologi Islam mengembangkan metode penelitian maupun metode analisis data seperti jenis-jenis analisis pertanggalan kronometrik yang berkembang dalam disiplin arkeologi.
















