No Result
View All Result
Sultanate Institute
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
  • Cinderamata
    • ParfumGiftset
    • ParfumHampers
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
  • Cinderamata
    • ParfumGiftset
    • ParfumHampers
No Result
View All Result
Sultanate Institute
No Result
View All Result

Para Ilmuwan Jugrafiya: Pelopor dan Madzhab Pemikiran Abad ke-9 M Hingga Abad ke-13 M

Editor by Editor
15 Juli 2026
in Islamic Civilization
0
Para Ilmuwan Jugrafiya: Pelopor dan Madzhab Pemikiran Abad ke-9 M Hingga Abad ke-13 M

Peta "Tabula Rogeriana" Karya Al-Idrisi. Sumber: Ayman Fuad Sayyid, "The Unpublished Works of Arabic Geography: An Overview and a Classification".

Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Perkembangan disiplin Jugrafiya dalam tradisi intelektual Islam melahirkan para pemikir besar yang meletakkan fondasi bagi kartografi, geodesi (ilmu mengukur bentuk bumi), hingga geografi dan ekonomi modern.

Merekalah tokoh ilmuwan yang mewakili perkembangan ilmu pengetahuan dalam disiplin Jugrafiya selama abad pertengahan. Karya-karya yang merangkum pemikiran mereka mengilhami perkembangan disiplin ilmu-ilmu kontemporer yang sampai kepada kita dewasa ini.

Selain melahirkan sosok tokoh-tokoh kunci, perkembangan disiplin Jugrafiya saat itu bahkan juga membentuk cara pandang masing-masing pemikir. Dari sana lahir pula madzhab keilmuan yang mewakili cara pandang masing-masing pemikir beserta generasi yang mewariskannya.

Oleh karena itu, para pelopor disiplin Jugrafiya dapat dipahami melalui madzhab keilmuan yang menyertai pemikiran mereka. Madzhab keilmuan dan generasi yang mewariskannya mencerminkan bagaimana disiplin ini melalui proses intelektual yang matang, dimulai dari penerjemahan teks-teks Yunani menjadi instrumen metodologis dalam memahami navigasi global.

Ilmuwan Jugrafiya Abad ke-9 M

Tokoh generasi peletak fondasi dengan bentuk geografi matematik abad ke-9 M diwakili oleh Al-Khawarizmi. Generasi ini berpusat di Baghdad era Daulah Abbasiyah yang berfokus pada kalkulasi astronomis, penentuan koordinat bumi, serta revisi atas karya-karya Ptolemaeus.

Al-Khawarizmi dikenal pula sebagai Bapak Geografi Islam. Melalui karyanya berjudul “Kitab Surat al-Ard” ia meletakkan fondasi utama tentang bentuk penampakan bumi.

Di bawah perintah Khalifah Al-Ma’mun, ia memimpin tim yang terdiri dari 70 geografer untuk mengukur keliling bumi dan mengoreksi peta dunia Ptolemaeus (Ptolemy’s Geography). Ia memperbaiki koordinat panjang dan lebar Laut Mediterania serta posisi kota-kota penting dunia, dan menjadikan pekerjaan itu sebagai karya peta paling akurat di abad ke-9 M.

Beberapa sosok penting dalam disiplin Jugrafiya adalah mereka madzhab geografi administrasi, militer dan intelijen abad ke-9 M. Mereka mewakili perkembangan geografi-kartografi yang menjadi keilmuan strategis negara. Hal ini diikuti oleh seiring meluasnya imperium, sehingga memunculkan madzhab “Al-Masalik wa al-Mamalik” (Rute Jalur dan Kerajaan-Kerajaan).

Generasi dan madzhab ini diwakili oleh Ibnu Khurdadbih (w. 912 M). Beliau adalah tokoh yang menulis versi paling awal sekaligus meletakkan standar penulisan kitab Al-Masalik wa al-Mamalik”.

Ibnu Khurdadbih memegang peran strategis sebagai Kepala Jaringan Pos dan Intelijen (Sahib al-Barid wa al-Khabar) di wilayah Jibal, Persia. Dengan peran tersebut, beliau mengetahui informasi dari dokumen-dokumen rahasia yang bermanfaat untuk menca tat rute pos, rincian pajak (kharaj), hingga rute perdagangan internasional (termasuk jaringan pedagang Yahudi Radhanite yang berlayar hingga ke timur jauh). Karyanya menjadi acuan utama buku panduan tata negara bagi para khalifah.

Selain Ibnu Khurdadbih, tokoh lain dalam generasi dan madzhab ini adalah Al-Ya’qubi (w. 897 M). Ia menulis karya monumental yang mengilhami karya-karya serupa selanjutnya berjudul “Kitab al-Buldan” (Buku Negeri-Negeri).

Dalam tradisi intelektual Islam, ia juga dikenal sebagai “Bapak Geografi Manusia”. Karyanya sangat fokus pada aspek topografi, demografi penduduk, sumber air, serta analisis ekonomi wilayah-wilayah dari Iran, Irak, Mesir, hingga Afrika Utara.

Ilmuwan Jugrafiya Abad ke-10 M

Salah satu madzhab penting dalam disiplin Jugrafiya dan diwariskan kepada generasi yang berjumlah banyak adalah Mazhab Balkhi/At-Tashwir al-Jughrafi abad ke-10 M. Dipelopori oleh Abu Zayd al-Balkhi, madzhab geografi ini muncul pada abad ke-10 M yang menekankan cara pandang pada penggambaran utuh pemetaan wilayah Islam (Biland al-Islam) secara sistematis dilengkapi dengan teks penjelasan.

Madzhab ini melahirkan tokoh ilmuwan pada abad yang sama yaitu Al-Istakhri (w. 957 M), Ibnu Hawqal (w. 978 M), dan Al-Muqaddasi (w. 990 M). Al-Istakhri menyusun “Kitab al-Masalik wa al-Mamalik” versi abad ke-10 M dengan bentuk pemetaan wilayah Islam yang dilengkapi dengan 21 peta wilayah terstruktur.

Al-Istakhri juga membagi dunia Islam ke dalam zona-zona geografis yang jelas, menjelaskan komoditas dagang, rute maritim, hingga pelabuhan-pelabuhan strategis di Teluk Persia dan Samudra Hindia.

Ibnu Hawqal menulis “Kitab Surat al-Ard” (Buku Konfigurasi Bumi). Ia melakukan pengembaraan sebagai diplomat dan analis politik yang melakukan pengamatan secara langsung selam 30 tahun. Karyanya memberi secara rinci dan mendalam mengenai kondisi sosio-ekonomi dan politik regional wilayah-wilayah Islam dari Spanyol (Andalusia) hingga Transoxiana.

Pemikir madzhab yang dikenal pula dengan Balkhi School selanjutnya adalah Al-Muqaddasi. Menulis mahakarya “Ahsan al-Taqasim fi Ma’rifat al-Aqalim” (Pembagian Terbaik untuk Pengetahuan Wilayah), ia menjadi salah satu geografer yang memberi sentuhan metodologis kuat dalam geografi regional.

Karyanya dihasilkan dengan melakukan observasi lapangan (fieldwork) yang sangat ketat. Ia mengklasifikasi wilayah berdasarkan iklim, budaya, perdagangan, serta hukum yang berlaku.

Ilmuwan Jugrafiya Abad ke-11 hingga abad ke-13 M

Era ini mewakili tingkat perkembangan Jugrafiya dalam bentuk ensiklopedia geografi dan pemetaan rinci kartografi. Pada masa ini, Jugrafiya disebut telah mencapai kematangan penuh, yang mampu mengintegrasikan geografi matematika tingkat tinggi dengan pemetaan kartografi global yang komprehensif.

Tokoh pada masa ini diwakili oleh Al-Biruni (w. 1048 M), Al-Idrisi (w. 1165 M), dan Yaqut al-Hamawi (w. 1229 M). Al-Biruni menulis “Kitab al-Tafhim” dan “Kitab Al-Qanun al-Mas’udi”. Ia dikenal sebagai seorang polimatik jenius yang memelopori ilmu geodesi.

Dalam membentuk cara pandanganya, ia menggunakan rumus trigonometri bola yang ia kembangkan sendiri di benteng Nandana (sekarang Pakistan). Ia kemudian berhasil menghitung jari-jari dan keliling bumi dengan akurasi 99.6% dari angka modern, yang menjadi sebuah kalkulasi baru yang bisa dicapai Eropa berabad-abad kemudian. Ia juga mencetuskan teori keberadaan benua di antara Samudra Atlantik dan Pasifik (sekarang kita kenal sebagai Amerika).

ADVERTISEMENT

Sementara Al-Idrisi mewakili tokoh ilmuwan masa ini yang meletakkan fondasi awal globe atau bola dunia. Berdasarkan karyanya yaitu “Kitab Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq”, ia menciptakan bola dunia yang disebut dengan Tabula Rogeriana.

Karyanya disusun pada saat ia bekerja di istana Raja Roger II dari Sisilia. Ia menggabungkan tradisi geografi Islam dengan data dari para pelaut Eropa untuk membuat peta dunia paling akurat di abad pertengahan. Peta tersebut diukir di atas piringan perak raksasa seberat 140 kg, membagi dunia ke dalam 7 zona iklim.

Disusul oleh Yaqut Al-Hamawi yang menyusun sebuah kamus lengkap negeri-negeri dalam “Kitab Mu’jam al-Buldan”. Lahir dari latar belakang budak kemudian menjadikannya sarjana, yang menyusun kamus geografi berbentuk ensiklopedia raksasa.

Kitab ini mencantumkan nama kota, desa, gunung, dan sungai di seluruh dunia yang dikenal saat itu berdasarkan urutan alfabetis, lengkap dengan data sejarah, garis lintang-bujur, serta latar belakang budaya penduduknya.

Para tokoh pemikir dan ilmuwan di atas, menunjukkan bahwa Jugrafiya dikembangkan oleh para profesional yang memiliki akses langsung ke struktur kekuasaan, logistik, dan data empiris lapangan.

Dari mereka, kita dapat memahami bahwa Jugrafiya bukanlah ilmu yang dapat dilakukan di dalam kamar atau sudut masjid. Melainkan melalui pengamatan langsung, perjalanan dan pengembaraan, serta observasi lapangan yang mendalam dan menyeluruh

Selain itu, Jugrafiya juga membutuhkan dana riset yang mumpuni, jejaring logistik, keamanan jalur, dan akses terhadap dokumen resmi kenegaraan. Oleh karena itu, para ilmuwan Jugrafiya adalah orang-orang penting bagi istana.

Jugrafiya bahkan merupakan sebuah proyek strategis negara dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang membutuhkan dukungan struktural, finansial, dan birokrasi tingkat tinggi. Tanpa adanya political will dari otoritas berwenang, jejaring pos kekhalifahan (al-barid), dan anggaran belanja negara, mahakarya para geografer tersebut mustahil lahir dan berkembang.

Previous Post

Workshop Digitalisasi Manuskrip dan Arsip Sejarah

Editor

Editor

Related Posts

Riset Arkeologi Islam di Arab Saudi: Peradaban Masa Awal Islam di Rute Hijrah Mekkah dan Madinah
Islamic Civilization

Riset Arkeologi Islam di Arab Saudi: Peradaban Masa Awal Islam di Rute Hijrah Mekkah dan Madinah

22 Juni 2026
Jugrafiya: Mengenal Integrasi Ilmu Sosial dan Sains dalam Tradisi Intelektual Islam
Islamic Civilization

Jugrafiya: Mengenal Integrasi Ilmu Sosial dan Sains dalam Tradisi Intelektual Islam

15 Juni 2026
Riset Arkeologi Islam di Ethiopia: Jejak Interaksi Peradaban Islam Terawal di Afrika Timur
Islamic Civilization

Riset Arkeologi Islam di Ethiopia: Jejak Interaksi Peradaban Islam Terawal di Afrika Timur

31 Mei 2026
Riset Arkeologi Islam di Bahrain: Dakwah dan Futuhat Islam Pesisir Jazirah Arab
Islamic Civilization

Riset Arkeologi Islam di Bahrain: Dakwah dan Futuhat Islam Pesisir Jazirah Arab

18 Mei 2026
Revolusi Ekonomi Islam: Dari Ketimpangan Pasar Menuju Fondasi Moneter Global
Islamic Civilization

Mata Uang Islam Temuan Situs Bongal dan Pengaruh Otoritas Dunia Islam di Samudra Hindia

13 Mei 2026
Studi Arkeologi Islam: Memahami Jejak Islamisasi Peradaban Dunia
Islamic Civilization

Studi Arkeologi Islam: Memahami Jejak Islamisasi Peradaban Dunia

30 April 2026

POPULAR

Para Ilmuwan Jugrafiya: Pelopor dan Madzhab Pemikiran Abad ke-9 M Hingga Abad ke-13 M

Para Ilmuwan Jugrafiya: Pelopor dan Madzhab Pemikiran Abad ke-9 M Hingga Abad ke-13 M

15 Juli 2026
Workshop Digitalisasi Manuskrip dan Arsip Sejarah

Workshop Digitalisasi Manuskrip dan Arsip Sejarah

11 Juli 2026
Bedah Buku Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M

Bedah Buku Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M

4 Juli 2026
Kunjungan Mahasiswa Sastra Indonesia UNS: Kolaborasi Disiplin Filologi dalam Penelitian Sejarah dan Arkeologi

Kunjungan Mahasiswa Sastra Indonesia UNS: Kolaborasi Disiplin Filologi dalam Penelitian Sejarah dan Arkeologi

3 Juli 2026
Kunjungan Arkeolog Supratikno Rahardjo: Situs Bongal Memperkuat Kajian Arkeologi Maritim di Indonesia

Kunjungan Arkeolog Supratikno Rahardjo: Situs Bongal Memperkuat Kajian Arkeologi Maritim di Indonesia

26 Juni 2026
Riset Arkeologi Islam di Arab Saudi: Peradaban Masa Awal Islam di Rute Hijrah Mekkah dan Madinah

Riset Arkeologi Islam di Arab Saudi: Peradaban Masa Awal Islam di Rute Hijrah Mekkah dan Madinah

22 Juni 2026
Kunjungan Museum Fansuri Situs Bongal ke Sekolah Tinggi Agama Islam Barus: Membangun Ekosistem Akademik

Kunjungan Museum Fansuri Situs Bongal ke Sekolah Tinggi Agama Islam Barus: Membangun Ekosistem Akademik

16 Juni 2026
Jugrafiya: Mengenal Integrasi Ilmu Sosial dan Sains dalam Tradisi Intelektual Islam

Jugrafiya: Mengenal Integrasi Ilmu Sosial dan Sains dalam Tradisi Intelektual Islam

15 Juni 2026
Riset Arkeologi Islam di Ethiopia: Jejak Interaksi Peradaban Islam Terawal di Afrika Timur

Riset Arkeologi Islam di Ethiopia: Jejak Interaksi Peradaban Islam Terawal di Afrika Timur

31 Mei 2026
Kuliah Lapangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon di Museum Abad Satu Hijriyah

Kuliah Lapangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon di Museum Abad Satu Hijriyah

27 Mei 2026
ADVERTISEMENT

Sultanate Institute. All Right Reserved

  • Profile
  • About Us
  • Contact Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Spiced Islam
    • SI-IO 2022
    • SI-IO 2023
    • SI-IO 2025
  • Islamic Civilization
  • Museum
    • Museum Abad Satu Hijriyah
    • Museum Fansuri Situs Bongal
  • Manuscripts
  • Tombstones
  • Expeditions
  • Activities
  • Books
  • Galleries
    • Masjid
    • Ekskavasi
    • Kegiatan
  • Cinderamata
    • ParfumGiftset
    • ParfumHampers