Jejak kepurbakalaan Situs Bongal sudah diketahui sejak tahun 2001, ketika masyarakat melaporkan adanya temuan sebuah arca Ganesha dalam keadaan yang sudah tidak utuh. Tim dari Balai Arkeologi Medan kemudian melakukan survei sebagaimana yang dilaporkan dalam “Laporan Penelitian Arkeologi Nomor 6 Tahun 2001: Penelitian Arkeologi di Kotamadia SIbolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara”.
Pada tahun 2001 tersebut, aktivitas penambangan emas masyarakat sudah terlihat. Hal ini disampaikan oleh ketua tim peneliti Situs Bongal dan salah satu penulis buku “Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I-IV H/VII-X M” Bapak Ery Soedewo dalam Bedah Buku di Ruang Konferensi Perpustakaan Universitas Sumatra Utara (USU) pada Sabtu (04/07/2026).
Kemudian pada tahun 2019 muncul kembali informasi terkait penemuan benda-benda bernilai sejarah, jika tahun 2001 ditemukan di area lereng bukit, pada tahun 2019 ditemukan di lokasi penambangan emas masyarakat. Benda-benda yang ditemukan antara lain koin-koin berinskripsi Arab dalam jumlah besar, benda berbahan kaca berbentuk botol kecil, pecahan keramik, manik-manik, hingga tonggak-tonggak kayu nibung.
Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Sultanate Institute, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara, Universitas Negeri Medan (UNIMED), tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tapanuli Tengah, temuan artefak tersebut berasal dari abad ke-7 M hingga abad ke-10 M. Berdasarkan identifikasi tersebut, Sultanate Institute kemudian menginisiasi dilakukannya penelitian arkeologi bekerja sama dengan Balai Arkeologi Sumatra Utara.
Sebagai analisis awal, tim peneliti Situs Bongal melakukan analisis pertanggalan kronometrik (radiocarbon dating) pada sampel kayu kapal yang hasilnya menunjukkan abad ke-7 M hingga abad ke-8 M. Hasil ini menunjukkan kesamaan kronologis antara analisis melalui radiocarbon dating dengan pertanggalan paleografis terhadap inskripsi yang terdapat pada fragmen kayu kapal.
Temuan Situs Bongal ini mendorong kita untuk mempelajari kembali kesejarahan di kawasan pesisir barat Sumatra. Sebab apa yang ditemukan di Situs Bongal menunjukkan usia yang lebih tua dari Situs Barus yang eksis pada abad ke-9 M. Selama ini Barus mewakili kesejarahan di pesisir barat Sumatra, namun Situs Bongal membuka wawasan dan pengetahuan baru.
Dengan adanya temuan dan data terbaru di Situs Bongal ini, semakin mempertemukan gap atau kesenjangan antara data historis (teks, catatan tertulis) dengan data arkeologi. Teks dan catatan tertulis mengenai pesisir barat Sumatra tercantum dalam teks-teks Arab sejak abad ke-8 M maupun teks Ptolemaeus.
Lokasi Situs Bongal berada di tepi aliran Sungai Lumut di Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Di sana kemudian penelitian arkeologi membuka 30 titik pengujian ekskavasi, dengan 21 titik berada di area perbukitan dan sembilan titik di area perbatasan dataran aluvial.
Kemudian jika kita rekonstruksi kawasan Situs Bongal termasuk area dataran aluvial Sungai Lumut, kondisi pada 1400 tahun yang lalu menunjukkan Sungai Lumut yang lebar dan belum tertutupi dataran aluvial (kini ditumbuhi tanaman nipah dan bakau). Sungai inilah yang menyediakan lokasi yang memudahkan kapal-kapal berolah gerak hingga melakukan bongkat muat.
Menyempitnya Sungai Lumut diakibatkan oleh proses sedimentasi atau pengendapan material alam yang dibawa oleh aliran sungai selama bertahun-tahun. Sehingga sisi kiri maupun kanan sungai mengalami penyempitan oleh pembentukan dataran aluvial.
Artefak yang ditemukan dari hasil ekskavasi ialah pecahan keramik Dinasti Tang, ragam manik-manik (manik-manik batu, manik-manik kaca, manik-manik Timur Tengah, manik-manik Indo-Pacific, dan faience beads), pecahan kaca dan yang berbentuk botol kecil, gerabah Asia Selatan, tembikar Timur Tengah tipe turquoise glaze, limbah resin pohon kapur (Dryobalanops aromatica) dan kemenyan, pala, cangkang kemiri, dan lempengan kuningan berinskripsi Arab.
Situs Bongal merupakan lokasi permukiman dan pelabuhan yang memiliki jejaring global dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Timur. Pada abad ke-7 M pelayaran yang datang dari Timur Tengah bertemu dengan para pelayar Nusantara yang terlibat aktif. Hal ini diketahui dari temuan fragmen kayu kapal yang menunjukkan kapal dari teknologi Asia Tenggara (tambuku-terikat) dan kapal teknologi Timur Tengah.
















